Pengamen Anak Di Atas Bus Patas

shares

Kondisi Halte Bus Di Jalan AP Petta Rani, Makassar
MAKASSAR -  MENIKMATI perjalanan, tidak harus mengendarai kendaraan pribadi. Tetapi, kita pun boleh menjadi penumpang dari kendaraan umum. Seperti, menjadi penumpang Bus Patas Air Conditioner (AC) 
   ======================
    Sebuah bis Patas AC, melintas lambat yang perlahan menghampiri para penumpangnya. Saya pun menapaki tangga bus, dan mencari tempat duduk yang tak terisi. Di bus patas tersebut, kita dimanjakan Fasilitas kenyamanan bagi penumpangnya.

    Bus yang saya tumpangi kali ini, melewati rute Pasar Daya, kota Makassar, menuju ke Terminal Sunggu Minasa, Kabupaten Gowa. Saya tidak terlalu lama menunggu Di Halte Bus di depan Show Room YAMAHA, Suraco Jaya Motor, yang terletak di Jalan A.P. Pettarani, Kota Makassar.

    Di Patas, selain disuguhkan Pendingin ruangan (AC), juga tempat duduknya di baluti dengan kain sofa. Jika, kita membandingkannya dengan bus Damri tentu sangat jauh berbeda fasilitasnya. kadangkala kita berhimpitan sesak dengan penumpang lainnya saat menumpangi bus Damri.

   Tak hanya itu, panas terik serta bau badan penumpang saling berbaur. Padahal, tarif antara bis Damri dengan Patas AC perbedaanya hanya Rp. 1.000. Kalau Damri tarifnya Rp. 2000. Sementara Patas AC, Rp. 3000. 
 
     Bus pun melaju lambat, mata ini tertuju pada sosok pengamen, yang umurnya sekira tiga belas tahun. Ia mengenakan pakaian oblong putih, bertuliskan Bali Tropical, dan celana jeans puntung. 
Pengamen Tuna Netra,Sedang Melantunkan Lagu
 
     Ia lantunkan Sejumlah lagu gubahan Ridwan Sau, penyanyi lagu daerah Makassar. Walaupun, suaranya fals dan terkesan dipaksakan, terlihat dengan urat di lehernya yang membentang. Maklum anak itu menderita Autis.    

        Autis adalah gangguan perkembangan pervasif pada anak yang ditandai dengan adanya gangguan dan keterlambatan dalam bidang kognitif, bahasa, perilaku, komunikasi dan interaksi sosial.

       Pengamen ini, sangat berbeda dengan pengamen lazimnya, ia tak menggunakan gitar, tetapi hanya menjual suara semata. Nafasnya yang ngos-ngosan saat melantunkan lagunya Ridwan Sau, tak ia hiraukan. Bahkan, sesekali ia menggoyangkan badannya. 
 
     Penumpang memakluminya, sesekali penumpang pun menimpali lagunya. Bahkan sang kondektur bus, sesekali meledeknya agar ia terus bernyanyi."Apaji kenapa kurang lagunya, tambahi sambalu,"kata kondektur bus, dengan dialek Makassarnya.

    Selesai ia bernyanyi, si pengamen menadahkan tangannya, meminta uang kepada para penumpang. Rasa ibah menggelayut di hati ini,ku ingin memberikan uang,tapi kondisi keuanganku menipis. Ku hanya mendongkol. dan berjanji bila kita bersua kembali, ku ingin memenuhi janji itu.

Related Posts

0 Komentar Anda:

Post a Comment