8 April 2018

Behind The Scane (Kanker Tulang Kuburkan Impian Pemuda Gowa Jadi Anggota TNI)

    Iseng berselancar di sejumlah media sosial (medsos), siang itu.  Saya menemukan satu unggahan kisah human interesting, tentang seorang prajurit siswa calon tamtama TNI-AD yang impiannya menjadi abdi negara, harus dikuburnya dalam-dalam.

Vonis kanker tulang menguburkan impian Dirsan.  Pemuda asal Kabupaten Gowa itu, tak hanya divonis kanker tulang, tetapi kaki kanannya harus diamputasi, dari kaki hingga pinggulnya.

Segera mungkin mencari tahu alamat Dirsan. Saya menghubungi admin salah satu medsos yang mengunggah informasi tentang Dirsan. Sembari berkoordinasi dengan grup what's up redaksi. "Sangat menarik, human interest-nya,"tulis saya.

Tak berselang lama, pimpinan redaksi, Arsyad Hakim, merespons unggahan tentang Dirsan itu. "Segera eksekusi,"timpalnya.

Setelah memperoleh alamat dan nomor ponsel Dirsan dari admin medsos yang kerap mengabarkan informasi kejadian di Sulsel itu, saya menghubungi nomor ponsel Dirsan. Tidak ada respons.

Bermodalkan alamat itulah, saya mengendarai sepeda motor butut menuju Kabupaten Gowa. Hari mulai gelap. Sekitar 10 kilometer dari ibu kota kabupaten, hujan deras.

Saya memilih memberhentikan sepeda motor dan  berlindung di emperan toko. Tiga batang rokok habis. Hujan reda. Saya melanjutkan perjalanan.

Tiba di Kecamatan Bajeng. Saya memilih singgah di Mapolsek setempat. Dua personel polisi berjaga, malam itu. "Maaf Pak, saya menganggu. Mau bertanya alamat ini,"kata saya, sembari memperlihatkan alamat. Hanya saja, keduanya tidak mengetahui alamat tersebut.

Perjalanan dilanjutkan. Saya kembali singgah, menanyai seorang pemuda yang sedang duduk menepi di atas motornya. Pemuda itu, tidak mengetahui alamat yang saya sebut.

Saya tidak putus asa. Kembali bertanya kepada dua penjaga toko. Namun, mereka juga tidak tahu. Akhirnya, saya singgah ke salah satu penjual sate yang berada di pinggir jalan. Dari penjual sate itulah, saya memperoleh petunjuk.

Lima kali saya singgah bertanya, hingga akhirnya saya menemukan rumah Dirsan yang berada di tepi sungai.

Berikut ini, hasil liputan saya.


Impiannya menjadi seorang personel TNI-AD, harus dikuburnya dalam-dalam. Kanker tulang di bagian lutut kanannya, menguburkan impian Dirsan, (21) pemuda warga Jalan Yunus Manangkasi, Kecamatan Bajeng, Gowa ini.


EDY ARSYAD, GOWA

Dirsan jalan tertatih dengan bantuan dua tongkat yang diapit di ketiaknya saat menuju ke ruang tamu. Kaki kanannya diamputasi.

Wajahnya semringah, menyambut  FAJAR saat disambangi di kediaman orang tuanya yang berada di pinggir Sungai Kembar, Jumat malam, 30 Maret.

Dirsan melepas kedua tongkatnya. Kemudian duduk di atas velbed atau tempat tidur lipat. Malam itu, ia mengenakan kaus abu-abu  tanpa lengan bertuliskan "Operasi Perbatasan RI-PNG".

Di ruang tamu berukuran tiga kali lima meter dan terdapat empat tumpukan karung berisi gabah itu, Dirsan menceritakan tekadnya mengabdikan dirinya sebagai personel TNI AD.

Pasca lulus SMK pada 2016 lalu, ia mendaftar Calon Bintara TNI AD. Namun, ia gagal.

Setahun kemudian, ia mendaftar kembali dan dinyatakan lulus. Ia pun mengikuti pendidikan Pendidikan Pertama Tamtama TNI AD Gelombang I Tahun 2017  di Malino, Gowa.

Satu bulan pertama menjalani pendidikan, ia merasakan sakit luar biasa di bagian lutut kanannya. "Saat itu, saya jalan merangkak, merasakan ngilu,"bebernya.

Usai latihan, saat berjalan pincang menuju barak, ia terlihat oleh sang komandan. Sang komandan kemudian menyarankan Dirsan untuk ke klinik. "Satu pekan kemudian, saya dirontgen di Rumah Sakit Pelamonia Makassar,"ujar alumni SMKN 1 Limbung ini.

Dia menceritakan, sakit yang dirasakan itu berawal saat mengikuti tes renang di Kodam Hasanuddin. "Lutut saya terbentur ke kolam, tetapi yang namanya dites saat itu, saya tidak hiraukan sakit itu,"ujarnya.

Kendati merasakan sakit di bagian lututnya itu, Dirsan tetap menjalani latihan seperti biasanya.

Waktu berjalan. Satu bulan pertama menjalani latihan, Dirsan tetap bertahan. Sepekan sebelum pelantikan, mantan Prasis Pendidikan Pertama Tamtama TNI AD Gelombang I Tahun 2017 tak menyangka sakit di bagian lututnya itu, membengkak.

Saat materi terakhir sebelum pelantikan, Dirsan  dibawa ke  klinik  Rindam di Pakatto, Kecamatan Bontomarannu, Gowa, untuk menjalani perawatan.

"Satu hari sebelum pelantikan dibawa ke Pakatto. Saya tidak mengikuti upacara penutupan pendidikan pertama Tamtama TNI AD Gelombang 1 Tahun Anggaran 2017 berlangsung di Lapangan Secata Malino, pada saat itu,"bebernya.

Tak hanya itu, Dirsan  dikembalikan kepada kedua orang tuanya, Hasanuddin Daeng Ngerang (51) dan Faridah Daeng So'na (45). "Saya diserahkan kembali ke orang tua saya pada 5 September lalu di Koramil Bajeng,"ujarnya.

Impian Dirsan menjadi personel TNI AD sirna. "Saya putus asa. Saya pernah berpikir mau akhiri hidup saja. Saya sangat terpukul saat itu. "beber Dirsan dengan mata berkaca-kaca.

Impiannya untuk mengumpulkan uang untuk memberangkatkan haji kedua orang tuanya, pupus sudah. "Saya punya cita-cita saat itu, jika lulus menjadi abdi negara, ingin memberangkatkan haji orang tua saya sebagai balas budi,"beber anak ketiga dari empat bersaudara ini.

Pasca dikembalikan ke orang tuanya itu, kaki kanan Dirsan harus diamputasi. "Kaki saya diamputasi di Rumah Sakit Wahidin Wirohusodo pada Januari lalu,"bebernya.

Saat Dirsan menceritakan kisahnya itu, ibu Dirsan mengambil bingkai foto Dirsan yang mengenakan seragam siswa Secata dari dalam kamarnya. Seketika suasana hening. "Sengaja saya simpan foto ini di lemari. Saya kasihan anakku,"kata ibu Dirsan, Faridah Daeng So'na, sembari meneteskan air matanya.

Kesedihan juga dirasakan ayah Dirsan, Hasanuddin. Petani ini meneteskan air matanya. "Saya tidak kuasa melihat foto ini,"bebernya, sesekali menghapus air matanya dengan kain baju kausnya.

Dirsan yang duduk di atas velbed, kemudian mengambil bingkai fotonya. Ditatapnya foto itu. Bibirnya bergetar. Matanya berkaca-kaca. "Saya bangga, sudah merasakan pendidikan di TNI. Tetapi nasib saya mengatakan lain,"bebernya dengan suara pelan. (*)


8 January 2018

Tiga Korban Kebakaran Meninggal Berturut-turut di Jam 5


Hasna saat ditemui di kediamannya

Hasna, (53), merasakan duka yang mendalam. Betapa tidak, tiga hari berturut-turut, ia kehilangan tiga keluarganya. Ketiganya pun meninggal di jam yang sama. Jam Lima.

           ******

Salat isya baru saja  usai, Minggu malam, 7 Januari. Demikian pula hujan telah reda, setelah mengguyur sedari siang.

Hasna, warga Jalan Baji Pamai 5 Lorong II, Kelurahan Tamparang Keke, Kecamatan Mamajang, baru saja tiba di rumahnya, setelah mengantar jenazah adiknya di Kecamatan Bangkala, Kabupaten Jeneponto.

Ia kehilangan adik kandungnya, Ahmadi Daeng Rola, (51), ipar,  Ma'ma  (31), serta kemanakannya, Putra, (2). Sebelumnya, ketiganya  menjadi korban kebakaran di kamar indekosnya di Jalan Bontoduri VII Lorong I, Kelurahan Pabaeng-baeng, Kecamatan Tamalate,  Jumat, 5 Januari, sekira pukul 06.30 Wita.

Disambangi di kediamannya di rumah semi permanen ukuran kurang lebih  enam kali empat meter yang berada di lorong kecil itu, ia tampak kelelahan. Ada dua koyo lengket di pelipis kiri dan kanannya.

Dia menceritakan, kemanakannya setelah mendapatkan perawatan medis di Rumah Sakit Bhayangkara, meninggal pada Jumat sore pada jam lima.

Sedangkan iparnya meninggal pada Sabtu sore pada jam lima. Terakhir, Minggu, 7 januari, adik kandungnya meninggal subuh pada jam lima. "Adik dan ipar saya, sempat mendapatkan perawatan medis di Rumah Sakit Wahidin. Ketiganya meninggal pada jam lima dan dikuburkan di Jeneponto,"beber Hasna.

Hasna mengaku tidak memiliki firasat apa pun terkait kepergian ketiga keluarganya itu. Bahkan, cerita dia, pada malam pergantian tahun, ia masih sempat bersama dengan adik dan iparnya itu.

Malam jelang pergantian tahun, kata Hasna,  mendiang adik itu sempat membawanya menuju ke anjungan Pantai Losari dengan bentornya. "Saya sama istri dan anaknya dibawa pakai bentor oleh adik saya (mendiang Ahmadi Daeng Rola, red). Tetapi hingga di Jalan Rajawali, karena macet  terpaksa tidak jadi ke anjungan,"bebernya.

Kahar Daeng Rimba, 35, anak Hasna, menjelaskan, pamannya sebelumnya  menetap bersama istrinya di Baji Pamai, tetapi beberapa bulan terakhir memilih indekos di Jalan Bontoduri.


Sebelumnya, Ketua RW X, Kelurahan Pabaeng-baeng, Suhardi Genot, menjelaskan, saat itu dirinya sedang menonton televisi. Tiba-tiba terdengar ledakan disertai getaran tanah di rumahnya. Tak berselang lama, sejumlah warga berteriak kebakaran.

Suhardi pun keluar dari rumahnya ke lokasi kebakaran yang berjarak kurang lebih 30 meter dari rumahnya. Saat tiba itulah, cerita Suhardi, api sudah mengepung di dalam kamar indekos korban yang  berukuran 2 kali 2,5 meter itu.

Dia menceritakan, di tengah kobaran api disertai kepulan asap, Ahmadi Daeng Rola, (51) dan Ma'ma  (51) berhasil keluar dari kamar dengan kondisi mengalami luka bakar.  Namun, pasutri itu lupa anaknya masih berada di dalam kamar.


"Ahmadi yang kesehariannya penarik bentor itu  kemudian masuk ke dalam kamar dan  menerobos kobaran api untuk menolong anaknya yang masih terlelap tidur di atas kasur,"beber Suhardi.

Suhardi menjelaskan, ketiga korban kemudian dievakuasi ke Rumah Sakit Bhayangkara Makassar untuk mendapatkan penanganan medis. "Ketiganya mengalami luka yang cukup parah,"jelasnya.

Sementara itu, Lurah Pabaeng-baeng, Abdul Rauf Edje, menjelaskan, dari keterangan sejumlah saksi mata, diduga kebakaran itu disebabkan kebocoran tabung gas, saat Ma'ma hendak memasak nasi. (*)


10 November 2017

Jiwa Nasionalisme Tanpa Pamrih

- Babinsa Harus Atasi Kesulitan Masyarakat


ISTIMEWA/PENGDAM XIV/HASANUDDIN
Serka Darwis, seorang anggota TNI asal Bulukumba, mendadak dikenal karena fotonya menyeberangkan siswa dengan tali katrol di Desa Maroko, Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara.

Darwis Kerap kali khawatir menyeberangkan siswa dengan  tali katrol atau gondola melintasi Sungai Ranteangin, di Kolaka Utara. Namun, perasaan itu disingkirkannya, demi masa depan siswa  para generasi muda itu.

Aksi Serka Darwis, prajurit Kodam XIV Hasanuddin yang bertaruh nyawa demi menyeberangkan siswa  itu viral setelah akun instagram Penerangan Kodam Hasanuddin memajang foto Serka Darwis saat menyeberangkan siswa. Aksi itu pun mendapat pujian  warganet.

Setiap pagi, dengan seutas tali yang terikat di batang pohon besar, selembar papan dan bambu, pria kelahiran Kabupaten Bulukumba, 5 Juli 1964 ini menyeberangkan gondola dari Desa  Maroko, Kecamatan Rante Angin ke desa tetangga, Desa Tinokari, Kecamatan Wawo, Kolaka Utara.

Serka Darwis pun menyeberangi Sungai Rante Angin yang  lebarnya 60 meter dengan kedalaman kurang lebih 7 meter itu dengan gondola yang ditumpangi sejumlah siswa.

"Rasa was-was dan takut, itu pasti ada sebagai manusia. Tetapi semua itu harus ditempuh, demi masa depan. Makanya yang diutamakan itu adalah keselamatan mereka (para siswa, red)," tegas Darwis yang merupakan Babinsa Koramil 1412-03/Lasusua.

Sekali menyeberangkan anak sekolah, tambah dia, membutuhkan waktu kurang lebih empat menit. Gondola semakin cepat tiba jika ada orang di seberang sungai yang menarik tali. Jika tidak, tentu membutuhkan waktu yang lama, karena dirinya harus menarik tali hingga sampai ke sebelah sungai.

Menurut prajurit TNI asal Desa Bontomarannu, Kecamatan Kajang, Bulukumba ini, apa yang dilakukannya  juga merupakan bagian dari tugas pokok, "Bagaimana mengatasi apa yang menjadi kesulitan masyarakat," ujar alumni SDN 104 Jannaya, Desa Lembanna, Kecamatan Kajang, Bulukumba ini.

Dia menceritakan, saat hendak mandi, biasanya menyempatkan diri untuk menyeberangkan anak sekolah. Apalagi, kediamanya memang berjarak jauh dengan gondola tersebut.

Hanya saja, beber Darwis, jika musim hujan tiba, air sungai kerap meluap. "Inilah biasa yang menjadi kekhawatiran. Biasanya, anak sekolah tidak pulang ke rumahnya, karena khawatir dengan air yang meluap tersebut, sehingga terpaksa menginap di rumah warga di dekat sekolahnya," beber alumni SMP Negeri 20, Kecamatan Kajang, Bulukumba ini.

Dia menjelaskan, dirinya merasa terpanggil menjadi prajurit TNI saat duduk di bangku Kelas II SMEA di Kabupaten Bantaeng pada 1989. Usai pendidikan Tamtama, dirinya pun ditugaskan di Yonif 721/Makkasau di Kabupaten Pinrang.

Kemudian memgikuti pendidikan Secaba, kemudian kembali ke kesatuan awal dan kemudian pindah tugas ke  Koramil 1412-03/Lasusua.

Pangdam XIV Hasanuddin, Mayjen TNI Agus SB, mengapresiasi langkah yang dilakukan salah seorang personelnya itu.  Agus SB menegaskan, sebagai babinsa tentu harus mampu untuk membantu kesulitan masyarakat di wilayah desa  binaannya.
"Panggilan tugasnya kadang harus mengorbankan kepentingan pribadinya," tegas dia.

Terpisah, Kapendam XIV Hasanuddin, Kolonel Inf Alamsyah, menjelaskan, Serka Darwis dalam kesehariannya sebelum ke kantornya menyempatkan diri terlebih dahulu menyeberangkan para siswa.

Itu dilakukannya sejak 2012 lalu. Awalnya, kata Alamsyah, Serka Darwis kasihan melihat siswa yang harus menempuh perjalanan yang jauh untuk ke sekolah yang berada di desa sebelah.

"Ada jalan lainnya, tetapi itu terlalu jauh ditempuh oleh siswa untuk ke sekolahnya yang berada di desa tetangga. Sehinnga, Serka Darwis berinisiatif dengan swadaya masyarakat membuat penyeberangan gondola tersebut," bebernya, Selasa, 8 Agustus lalu.

Menurutnya, apa yang dilakukan Serka Darwis yang juga kelahiran Kabupaten Bulukumba ini, bentuk prajurit teritorial yang disiapkan membantu  masyarakat untuk mengatasi kesulitan yang dihadapi warga binaannya.

"Pangdam juga selalu menegaskan, keberadaan Babinsa di samping melakukan deteksi paham radikalisme  juga  membantu mengatasi apa yang menjadi kesulitan masyarakat. Kita bisa melihat peranan babinsa, baik di bidang pertanian dan KB," pungkasnya.(*)
26 September 2017

Pangdam Hasanuddin Jadi Redaktur Harian FAJAR


Ada pemandangan berbeda di redaksi Harian FAJAR, Mayjen TNI Agus SB yang ksehariannya menjabat Pangdam XIV/Hasanuddin, mendadak jadi redaktur, Senin malam, 25 September. 

Matanya terus melototi layar komputer di depannya. Sesekali jemarinya menekan tuts. Kata yang keliru pun diubahnya. Ia kerap memanggil saya yang kebetulan menulis naskah tersebut.

"Ed, sini. Ini ada beberapa salah ketik. Kalau di tentara, pasti kamu sudah push up kalau ada kesalahan, "guyonnya disambut tawa sejumlah awak redaksi Harian FAJAR.

Saya yang berada di belakang Panglima Hasanuddin, hanya tertawa kecil. "Siap jenderal. Siap salah,"balasku dengan mengambil posisi sikap sempurna. Suasana dapur mengolah ramuan naskah malam itu pun riuh oleh tawa.

Ia berulang kali harus tertawa kecil, kala mendapati  naskah yang dieditnya,  pangkat yang disandangnya jenderal empat bintang.  "Wah, alhamdullilah. Insyaallah. Ini doa, "ujarnya dengan wajah semringah.

Jenderal dua bintang ini pun membutuhkan waktu sekitar 30 menit menyelesaikan dua naskah. "Wah, cukup lama yah. Editor itu, harus memiliki konsentrasi tinggi,"bebernya.

Naskah yang diedit sengaja dibuat salah. Namun, dengan kejeliannya sejumlah kata yang salah pun ditemukan jenderal dua bintang di pundaknya ini. Orang nomor satu di jajaran Kodam Hasanuddin ini jadi redaktur tak lain merupakan program "Tokoh Mengedit" menyambut HUT Harian FAJAR ke-36.

Kendati mengedit dua naskah sekitar 30 menit, hal itu  karena dirinya baru kembali lagi melakukan pengeditan naskah. Dulunya, kata lulusan Akademi Militer tahun 1984 ini, waktu bertugas di Deputi I Bidang Pencegahan, Perlindungan, dan Deradikalisasi BNPT, Agus mengaku mengetik sendiri tulisannya. Bahkan, tulisannya pun dibukukan.

Usia mengedit naskah, Agus pun memilih foto kegiatan Peleton Tangkas yang digelar di Desa Bili-bili, Kecamatan Bontomarannu, Gowa, yang akan diterbitkan.

Di redaksi Harian FAJAR, tokoh utama yang berada di balik lahirnya cetak biru kebijakan dan strategi pencegahan terorisme yang dijalankan di BNPT ini melihat secara langsung proses pembuatan dan pengeditan berita.

Jenderal dua bintang ini diterima langsung Pimred Harian FAJAR, Ruslan Ramli, dan Wakil Pemimpin Redaksi Harian FAJAR, Arsyad Hakim. (*)
20 July 2017

Sisi Lain Wartawan Desk Kriminal (Bagian 1)


Wartawan desk kriminal, itu mengasyikkan, loh. Iya, sangat mengasyikkan bagi yang senang dengan liputan lapangan.

Kalau ditanyakan, apakah kebanyakan suka atau dukanya. Secara pribadi, saya menilai lebih banyak dukanya, tetapi itu semua harus dilalui. Tentu, itu menjadi dinamika liputan.

Misalnya, saat sedang tertidur nyenyak. Tetiba ada panggilan yang masuk yang menginformasikan adanya peristiwa. Segera, tanpa alasan apa pun, harus ke lokasi kejadian.

Dinginnya angin dini hari terasa seolah-olah tembus ke tulang sumsum, bukan menjadi penghalang. Maka tak heran,  wartawan desk kriminal seakan sudah akrab dengan masuk angin.

Soal menunggu narasumber. Para wartawan desk kriminal yang menjadi jagoan. Tanpa keluh kesah. Pelbagai peristiwa, demi  menunggu pernyataan dan keterangan narasumber, harus menunggu hingga lima jam lebih. Tentu, dengan deadline yang menghantui.

Suatu pernah menunggu dari  petang hingga jelang dini hari. Saya dan rekan-rekan harus menunggu keterangan narasumber dari pihak Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Sulsel, yang sedang melakukan pengembangan kasus penyalahgunaan narkoba jenis ganja yang berjumlah kiloan.

Satu persatu rekan-rekan, terkapar. Lantai di depan kantor BNNP Sulsel, jadi pelampiasan. Bercengkrama satu sama lainnya, untuk hilangkan kejenuhan menunggu narasumber.  Kebersamaan dengan rekan sejawat itulah, yang mungkin sangat jarang ditemukan di desk lainnya.