10 November 2017

Jiwa Nasionalisme Tanpa Pamrih

- Babinsa Harus Atasi Kesulitan Masyarakat


ISTIMEWA/PENGDAM XIV/HASANUDDIN
Serka Darwis, seorang anggota TNI asal Bulukumba, mendadak dikenal karena fotonya menyeberangkan siswa dengan tali katrol di Desa Maroko, Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara.

Darwis Kerap kali khawatir menyeberangkan siswa dengan  tali katrol atau gondola melintasi Sungai Ranteangin, di Kolaka Utara. Namun, perasaan itu disingkirkannya, demi masa depan siswa  para generasi muda itu.

Aksi Serka Darwis, prajurit Kodam XIV Hasanuddin yang bertaruh nyawa demi menyeberangkan siswa  itu viral setelah akun instagram Penerangan Kodam Hasanuddin memajang foto Serka Darwis saat menyeberangkan siswa. Aksi itu pun mendapat pujian  warganet.

Setiap pagi, dengan seutas tali yang terikat di batang pohon besar, selembar papan dan bambu, pria kelahiran Kabupaten Bulukumba, 5 Juli 1964 ini menyeberangkan gondola dari Desa  Maroko, Kecamatan Rante Angin ke desa tetangga, Desa Tinokari, Kecamatan Wawo, Kolaka Utara.

Serka Darwis pun menyeberangi Sungai Rante Angin yang  lebarnya 60 meter dengan kedalaman kurang lebih 7 meter itu dengan gondola yang ditumpangi sejumlah siswa.

"Rasa was-was dan takut, itu pasti ada sebagai manusia. Tetapi semua itu harus ditempuh, demi masa depan. Makanya yang diutamakan itu adalah keselamatan mereka (para siswa, red)," tegas Darwis yang merupakan Babinsa Koramil 1412-03/Lasusua.

Sekali menyeberangkan anak sekolah, tambah dia, membutuhkan waktu kurang lebih empat menit. Gondola semakin cepat tiba jika ada orang di seberang sungai yang menarik tali. Jika tidak, tentu membutuhkan waktu yang lama, karena dirinya harus menarik tali hingga sampai ke sebelah sungai.

Menurut prajurit TNI asal Desa Bontomarannu, Kecamatan Kajang, Bulukumba ini, apa yang dilakukannya  juga merupakan bagian dari tugas pokok, "Bagaimana mengatasi apa yang menjadi kesulitan masyarakat," ujar alumni SDN 104 Jannaya, Desa Lembanna, Kecamatan Kajang, Bulukumba ini.

Dia menceritakan, saat hendak mandi, biasanya menyempatkan diri untuk menyeberangkan anak sekolah. Apalagi, kediamanya memang berjarak jauh dengan gondola tersebut.

Hanya saja, beber Darwis, jika musim hujan tiba, air sungai kerap meluap. "Inilah biasa yang menjadi kekhawatiran. Biasanya, anak sekolah tidak pulang ke rumahnya, karena khawatir dengan air yang meluap tersebut, sehingga terpaksa menginap di rumah warga di dekat sekolahnya," beber alumni SMP Negeri 20, Kecamatan Kajang, Bulukumba ini.

Dia menjelaskan, dirinya merasa terpanggil menjadi prajurit TNI saat duduk di bangku Kelas II SMEA di Kabupaten Bantaeng pada 1989. Usai pendidikan Tamtama, dirinya pun ditugaskan di Yonif 721/Makkasau di Kabupaten Pinrang.

Kemudian memgikuti pendidikan Secaba, kemudian kembali ke kesatuan awal dan kemudian pindah tugas ke  Koramil 1412-03/Lasusua.

Pangdam XIV Hasanuddin, Mayjen TNI Agus SB, mengapresiasi langkah yang dilakukan salah seorang personelnya itu.  Agus SB menegaskan, sebagai babinsa tentu harus mampu untuk membantu kesulitan masyarakat di wilayah desa  binaannya.
"Panggilan tugasnya kadang harus mengorbankan kepentingan pribadinya," tegas dia.

Terpisah, Kapendam XIV Hasanuddin, Kolonel Inf Alamsyah, menjelaskan, Serka Darwis dalam kesehariannya sebelum ke kantornya menyempatkan diri terlebih dahulu menyeberangkan para siswa.

Itu dilakukannya sejak 2012 lalu. Awalnya, kata Alamsyah, Serka Darwis kasihan melihat siswa yang harus menempuh perjalanan yang jauh untuk ke sekolah yang berada di desa sebelah.

"Ada jalan lainnya, tetapi itu terlalu jauh ditempuh oleh siswa untuk ke sekolahnya yang berada di desa tetangga. Sehinnga, Serka Darwis berinisiatif dengan swadaya masyarakat membuat penyeberangan gondola tersebut," bebernya, Selasa, 8 Agustus lalu.

Menurutnya, apa yang dilakukan Serka Darwis yang juga kelahiran Kabupaten Bulukumba ini, bentuk prajurit teritorial yang disiapkan membantu  masyarakat untuk mengatasi kesulitan yang dihadapi warga binaannya.

"Pangdam juga selalu menegaskan, keberadaan Babinsa di samping melakukan deteksi paham radikalisme  juga  membantu mengatasi apa yang menjadi kesulitan masyarakat. Kita bisa melihat peranan babinsa, baik di bidang pertanian dan KB," pungkasnya.(*)
26 September 2017

Pangdam Hasanuddin Jadi Redaktur Harian FAJAR


Ada pemandangan berbeda di redaksi Harian FAJAR, Mayjen TNI Agus SB yang ksehariannya menjabat Pangdam XIV/Hasanuddin, mendadak jadi redaktur, Senin malam, 25 September. 

Matanya terus melototi layar komputer di depannya. Sesekali jemarinya menekan tuts. Kata yang keliru pun diubahnya. Ia kerap memanggil saya yang kebetulan menulis naskah tersebut.

"Ed, sini. Ini ada beberapa salah ketik. Kalau di tentara, pasti kamu sudah push up kalau ada kesalahan, "guyonnya disambut tawa sejumlah awak redaksi Harian FAJAR.

Saya yang berada di belakang Panglima Hasanuddin, hanya tertawa kecil. "Siap jenderal. Siap salah,"balasku dengan mengambil posisi sikap sempurna. Suasana dapur mengolah ramuan naskah malam itu pun riuh oleh tawa.

Ia berulang kali harus tertawa kecil, kala mendapati  naskah yang dieditnya,  pangkat yang disandangnya jenderal empat bintang.  "Wah, alhamdullilah. Insyaallah. Ini doa, "ujarnya dengan wajah semringah.

Jenderal dua bintang ini pun membutuhkan waktu sekitar 30 menit menyelesaikan dua naskah. "Wah, cukup lama yah. Editor itu, harus memiliki konsentrasi tinggi,"bebernya.

Naskah yang diedit sengaja dibuat salah. Namun, dengan kejeliannya sejumlah kata yang salah pun ditemukan jenderal dua bintang di pundaknya ini. Orang nomor satu di jajaran Kodam Hasanuddin ini jadi redaktur tak lain merupakan program "Tokoh Mengedit" menyambut HUT Harian FAJAR ke-36.

Kendati mengedit dua naskah sekitar 30 menit, hal itu  karena dirinya baru kembali lagi melakukan pengeditan naskah. Dulunya, kata lulusan Akademi Militer tahun 1984 ini, waktu bertugas di Deputi I Bidang Pencegahan, Perlindungan, dan Deradikalisasi BNPT, Agus mengaku mengetik sendiri tulisannya. Bahkan, tulisannya pun dibukukan.

Usia mengedit naskah, Agus pun memilih foto kegiatan Peleton Tangkas yang digelar di Desa Bili-bili, Kecamatan Bontomarannu, Gowa, yang akan diterbitkan.

Di redaksi Harian FAJAR, tokoh utama yang berada di balik lahirnya cetak biru kebijakan dan strategi pencegahan terorisme yang dijalankan di BNPT ini melihat secara langsung proses pembuatan dan pengeditan berita.

Jenderal dua bintang ini diterima langsung Pimred Harian FAJAR, Ruslan Ramli, dan Wakil Pemimpin Redaksi Harian FAJAR, Arsyad Hakim. (*)
20 July 2017

Sisi Lain Wartawan Desk Kriminal (Bagian 1)


Wartawan desk kriminal, itu mengasyikkan, loh. Iya, sangat mengasyikkan bagi yang senang dengan liputan lapangan.

Kalau ditanyakan, apakah kebanyakan suka atau dukanya. Secara pribadi, saya menilai lebih banyak dukanya, tetapi itu semua harus dilalui. Tentu, itu menjadi dinamika liputan.

Misalnya, saat sedang tertidur nyenyak. Tetiba ada panggilan yang masuk yang menginformasikan adanya peristiwa. Segera, tanpa alasan apa pun, harus ke lokasi kejadian.

Dinginnya angin dini hari terasa seolah-olah tembus ke tulang sumsum, bukan menjadi penghalang. Maka tak heran,  wartawan desk kriminal seakan sudah akrab dengan masuk angin.

Soal menunggu narasumber. Para wartawan desk kriminal yang menjadi jagoan. Tanpa keluh kesah. Pelbagai peristiwa, demi  menunggu pernyataan dan keterangan narasumber, harus menunggu hingga lima jam lebih. Tentu, dengan deadline yang menghantui.

Suatu pernah menunggu dari  petang hingga jelang dini hari. Saya dan rekan-rekan harus menunggu keterangan narasumber dari pihak Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Sulsel, yang sedang melakukan pengembangan kasus penyalahgunaan narkoba jenis ganja yang berjumlah kiloan.

Satu persatu rekan-rekan, terkapar. Lantai di depan kantor BNNP Sulsel, jadi pelampiasan. Bercengkrama satu sama lainnya, untuk hilangkan kejenuhan menunggu narasumber.  Kebersamaan dengan rekan sejawat itulah, yang mungkin sangat jarang ditemukan di desk lainnya.
4 June 2017

Kondisi Bayi Penderita Hidrosefalus, Orangtua Butuh Uluran Tangan Dermawan





SIANG yang terik, usai salat Jumat, 2 Juni. Saya yang mengendarai motor butut terus mencari alamat indekos orangtua bayi Ahmad Romansyah,  penderita hidrosefalus.

Beberapa kali memberhentikan motor bututku dan bertanya kepada sejumlah warga. Namun, tak satu pun yang mengetahuinya.

Tiba-tiba, rekan sejawatku yang juga mendapatkan tugas meliput,  menghubungiku dan memberikan petunjuk arah indekos yang di maksud. Tiba di indekos tersebut, ayah Ahmad, Yusri, menunggu kedatangan kami.

Ia kemudian menemui kami yang berada di depan indekos yang ditumpanginya selama ini. Yusri kemudian mempersilakan kami untuk masuk ke kamar indekos bernomor tiga. Ada 13 indekos di sana.

Lisna Asnawir, 28, sedang mengayunkan bayinya, Ahmad Romansyah, di atas kelambu berwarna merah jambu saat kami mendatangi bayi penderita  Hidrosefalus di salah satu indekos di Jalan Salodong, Kelurahan Untia, Kecamatan Biringkanaya.

Sesekali Ahmad menangis. Tidak ada ekspresi senyum di wajah bayi yang berusia 10 bulan itu, selain tatapan tajam. Lisna berusaha menenangkan bayinya  dengan mengayunkan  alat ayun, sesekali menepuk pantat anaknya.

Lisna kemudian mengeluarkan anaknya itu dari dalam kelambu. Ahmad kembali menangis. Sembari duduk, dia menggendong anaknya itu. Kakak Ahmad, Nurfaisah yang berumur dua tahun,  tanpa mengenakan baju mendekati ibunya, lantas mencium adiknya tersebut, tangisan Ahmad kian menjadi-jadi.

Saya sedih  menyaksikan kondisi Ahmad. Mataku sembab. Namun, saya berusaha menahan tangisku. "Betapa berat penderitaan bayi ini,"gumamku dalam hati.

Yusri duduk bersila di depanku.  Ia tampak sedih. Namun, ia berharap kesembuhan anaknya. Kepala Ahmad berbeda dengan bayi pada umumnya, pasca dioperasi di RSUP Dr Wahidin Sudirohusodo,  kepalanya hingga di atas hidungnya berbentuk kubangan.

 "Sudah dioperasi 20 hari lalu, awalnya kepalanya membesar. Setelah dioperasi cairannya disedot dan kepalanya sudah mengecil, tetapi berbentuk kubangan," beber Yusri, 37, ayah Ahmad Romansyah.

Orangtua Ahmad Romansyah yang merupakan warga Dusun Pandoso, Desa Padang Lambe, Kecamatan Suli, Kabupaten Luwu, selama tiga bulan mereka menumpang di indekos adiknya. Di indekos dengan luas kurang lebih 3 x 4 meter itu, Yusri dan istrinya, serta dua anaknya itu, menumpang sementara.

Yusri menceritakan, saat istrinya mengandung Ahmad, itu berlangsung normal. Sama seperti kehamilan sebelumnya. Saat istrinya melahirkan, anaknya lahir secara normal dan belum mengetahui anaknya tersebut menderita Hidrosefalus .

Ahmad dilahirkan di kediaman pasangan Yusri dan Lisna dengan bantuan bidan setempat. "Pada waktu Ahmad lahir itu normal, tetapi lembek. Seiring perjalanan waktu, kepalanya kian membesar hampir kayak helm,"bebernya.

Saat dilakukan pemeriksaan di puskesmas itulah, orangtua Ahmad baru mengetahui kalau anak bungsu dari empat bersaudara tersebut  menderita Hidrosefalus.

Selama tiga bulan belakangan, kata Yusri,  anak bungsunya itu terus menjalani pengobatan. Setelah menjalani operasi bulan lalu, rencananya pada pertengahan Juni ini  kondisi anaknya akan kembali dicek  dan selanjutnya akan dioperasi kembali.

Yusri mengaku bersyukur, kendati anaknya itu tidak dapat  merespons orang di sekitarnya, tapi anak bungsunya itu bisa selamat. Menurut Yusri, tipis harapan anaknya itu dapat berbicara normal nantinya, karena otaknya sudah mengecil dipenuhi cairan. "Berdoa saja semoga panjang umur, biar tidak bisa bicara yang penting  bersyukur anakku bisa selamat,"jelas petani ini.

Sementara itu, Lisna menjelaskan, anaknya tersebut sulit tidur. Paling lama, kata dia, dalam sehari Ahmad hanya tidur nyenyak selama tiga jam saja. Terkadang, tambah dia, dia harus tidur sembari duduk memangku bayi laki-lakinya itu agar dapat tenang dan tidak menangis. "Anak saya ini suka menangis,"bebernya.


Kendati biaya pengobatan dan penanganan medis bayinya itu ditanggung jaminan sosial kesehatan, namun Lisna  mengharapkan uluran tangan para dermawan. "Berharap bantuan untuk biaya hidup selama di Makassar, termasuk untuk membeli bubur dan susu bayi, serta  popok anaknya itu,"ujarnya.

*******

Bagi Anda yang ingin membantu,  dapat menghubungi orangtua Ahmad, Yusri via ponsel : 085299684047. 
9 December 2015

Polisi Belum Meringkus Pelaku





WATAMPONE,FAJAR--Penyelidikan kasus pembunuhan Abdul Rahman , 32 tahun, warga Jalan Desa Bila, Kecamatan Amali, yang tewas mengenaskan di Kampung Bulucina, DesaTeamusu, belum mengalami perkembangan yang berarti. Para pelaku yang sudah diidentifikasi lebih dari satu orang itu, belum juga diringkus.

Kasat Reskrim Polres Bone, Ali Tahir, mengatakan, terkait penyelidikan kasus
tersebut, pihaknya juga tetap membeckup Polsek Ulaweng dalam penyelidikan kasus itu. Menurutnya, belum ada perkembangan berarti dalam penyelidikan. Walaupun, kata dia, pelakunya yang lebih dari satu orang tersebut sudah diidentifikasi."Belum ada perkembangan yang berarti terkait penyelidikan kasus itu,"jelasnya, Selasa, 3 September.

Sebelumnya, Kasat Reskrim Polres Bone ini, berdalih, petugas kesulitan meringkus mereka yang dicurigai sebagai pelakunya. Pasalnya, jelas dia, pelaku sudah bersembunyi dan lokasi persembunyian mereka  sangat sulit diakses petugas yang melakukan pengejaran.

Sementara itu, penyidik Polsek Ulaweng kian mengintensifkan pemeriksaan saksi kunci dalam kasus ini. Bahkan, menjadwalkan mengintegorasi Saksi tambahan dalam waktu dekat ini. Kapolsek Ulaweng, AKP Andi Bahsar, menjelaskan,  pemanggilan untuk diintegorasi  saksi tambahan itu, untuk memperkuat alibi dan keterangan saksi kunci sebelumnya, yaitu Syamsiar, 25 tahun.  Syamsiar sendiri merupakan wanita yang menemani korban, saat terjadinya penganiayaan yang berujung pembunuhan yang dilakukan pelaku yang berjumlah lebih dari satu orang  terhadap korban, Abdul Rahman.


Informasi yang dihimpun dari salah seorang petugas di Polsek Ulaweng, selain mengintegorasi saksi, petugas tetap melakukan pengejaran terhadap mereka yang dicurigai sebagai pelaku. Tak hanya itu, sejumlah informan pun dilibatkan dalam penyelidikan kasus ini. Langkah itu, untuk mengetahui keberadaan para pelaku. (eds)