26 September 2017

Pangdam Hasanuddin Jadi Redaktur Harian FAJAR


Ada pemandangan berbeda di redaksi Harian FAJAR, Mayjen TNI Agus SB yang ksehariannya menjabat Pangdam XIV/Hasanuddin, mendadak jadi redaktur, Senin malam, 25 September. 

Matanya terus melototi layar komputer di depannya. Sesekali jemarinya menekan tuts. Kata yang keliru pun diubahnya. Ia kerap memanggil saya yang kebetulan menulis naskah tersebut.

"Ed, sini. Ini ada beberapa salah ketik. Kalau di tentara, pasti kamu sudah push up kalau ada kesalahan, "guyonnya disambut tawa sejumlah awak redaksi Harian FAJAR.

Saya yang berada di belakang Panglima Hasanuddin, hanya tertawa kecil. "Siap jenderal. Siap salah,"balasku dengan mengambil posisi sikap sempurna. Suasana dapur mengolah ramuan naskah malam itu pun riuh oleh tawa.

Ia berulang kali harus tertawa kecil, kala mendapati  naskah yang dieditnya,  pangkat yang disandangnya jenderal empat bintang.  "Wah, alhamdullilah. Insyaallah. Ini doa, "ujarnya dengan wajah semringah.

Jenderal dua bintang ini pun membutuhkan waktu sekitar 30 menit menyelesaikan dua naskah. "Wah, cukup lama yah. Editor itu, harus memiliki konsentrasi tinggi,"bebernya.

Naskah yang diedit sengaja dibuat salah. Namun, dengan kejeliannya sejumlah kata yang salah pun ditemukan jenderal dua bintang di pundaknya ini. Orang nomor satu di jajaran Kodam Hasanuddin ini jadi redaktur tak lain merupakan program "Tokoh Mengedit" menyambut HUT Harian FAJAR ke-36.

Kendati mengedit dua naskah sekitar 30 menit, hal itu  karena dirinya baru kembali lagi melakukan pengeditan naskah. Dulunya, kata lulusan Akademi Militer tahun 1984 ini, waktu bertugas di Deputi I Bidang Pencegahan, Perlindungan, dan Deradikalisasi BNPT, Agus mengaku mengetik sendiri tulisannya. Bahkan, tulisannya pun dibukukan.

Usia mengedit naskah, Agus pun memilih foto kegiatan Peleton Tangkas yang digelar di Desa Bili-bili, Kecamatan Bontomarannu, Gowa, yang akan diterbitkan.

Di redaksi Harian FAJAR, tokoh utama yang berada di balik lahirnya cetak biru kebijakan dan strategi pencegahan terorisme yang dijalankan di BNPT ini melihat secara langsung proses pembuatan dan pengeditan berita.

Jenderal dua bintang ini diterima langsung Pimred Harian FAJAR, Ruslan Ramli, dan Wakil Pemimpin Redaksi Harian FAJAR, Arsyad Hakim. (*)
20 July 2017

Sisi Lain Wartawan Desk Kriminal (Bagian 1)


Wartawan desk kriminal, itu mengasyikkan, loh. Iya, sangat mengasyikkan bagi yang senang dengan liputan lapangan.

Kalau ditanyakan, apakah kebanyakan suka atau dukanya. Secara pribadi, saya menilai lebih banyak dukanya, tetapi itu semua harus dilalui. Tentu, itu menjadi dinamika liputan.

Misalnya, saat sedang tertidur nyenyak. Tetiba ada panggilan yang masuk yang menginformasikan adanya peristiwa. Segera, tanpa alasan apa pun, harus ke lokasi kejadian.

Dinginnya angin dini hari terasa seolah-olah tembus ke tulang sumsum, bukan menjadi penghalang. Maka tak heran,  wartawan desk kriminal seakan sudah akrab dengan masuk angin.

Soal menunggu narasumber. Para wartawan desk kriminal yang menjadi jagoan. Tanpa keluh kesah. Pelbagai peristiwa, demi  menunggu pernyataan dan keterangan narasumber, harus menunggu hingga lima jam lebih. Tentu, dengan deadline yang menghantui.

Suatu pernah menunggu dari  petang hingga jelang dini hari. Saya dan rekan-rekan harus menunggu keterangan narasumber dari pihak Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Sulsel, yang sedang melakukan pengembangan kasus penyalahgunaan narkoba jenis ganja yang berjumlah kiloan.

Satu persatu rekan-rekan, terkapar. Lantai di depan kantor BNNP Sulsel, jadi pelampiasan. Bercengkrama satu sama lainnya, untuk hilangkan kejenuhan menunggu narasumber.  Kebersamaan dengan rekan sejawat itulah, yang mungkin sangat jarang ditemukan di desk lainnya.
4 June 2017

Kondisi Bayi Penderita Hidrosefalus, Orangtua Butuh Uluran Tangan Dermawan





SIANG yang terik, usai salat Jumat, 2 Juni. Saya yang mengendarai motor butut terus mencari alamat indekos orangtua bayi Ahmad Romansyah,  penderita hidrosefalus.

Beberapa kali memberhentikan motor bututku dan bertanya kepada sejumlah warga. Namun, tak satu pun yang mengetahuinya.

Tiba-tiba, rekan sejawatku yang juga mendapatkan tugas meliput,  menghubungiku dan memberikan petunjuk arah indekos yang di maksud. Tiba di indekos tersebut, ayah Ahmad, Yusri, menunggu kedatangan kami.

Ia kemudian menemui kami yang berada di depan indekos yang ditumpanginya selama ini. Yusri kemudian mempersilakan kami untuk masuk ke kamar indekos bernomor tiga. Ada 13 indekos di sana.

Lisna Asnawir, 28, sedang mengayunkan bayinya, Ahmad Romansyah, di atas kelambu berwarna merah jambu saat kami mendatangi bayi penderita  Hidrosefalus di salah satu indekos di Jalan Salodong, Kelurahan Untia, Kecamatan Biringkanaya.

Sesekali Ahmad menangis. Tidak ada ekspresi senyum di wajah bayi yang berusia 10 bulan itu, selain tatapan tajam. Lisna berusaha menenangkan bayinya  dengan mengayunkan  alat ayun, sesekali menepuk pantat anaknya.

Lisna kemudian mengeluarkan anaknya itu dari dalam kelambu. Ahmad kembali menangis. Sembari duduk, dia menggendong anaknya itu. Kakak Ahmad, Nurfaisah yang berumur dua tahun,  tanpa mengenakan baju mendekati ibunya, lantas mencium adiknya tersebut, tangisan Ahmad kian menjadi-jadi.

Saya sedih  menyaksikan kondisi Ahmad. Mataku sembab. Namun, saya berusaha menahan tangisku. "Betapa berat penderitaan bayi ini,"gumamku dalam hati.

Yusri duduk bersila di depanku.  Ia tampak sedih. Namun, ia berharap kesembuhan anaknya. Kepala Ahmad berbeda dengan bayi pada umumnya, pasca dioperasi di RSUP Dr Wahidin Sudirohusodo,  kepalanya hingga di atas hidungnya berbentuk kubangan.

 "Sudah dioperasi 20 hari lalu, awalnya kepalanya membesar. Setelah dioperasi cairannya disedot dan kepalanya sudah mengecil, tetapi berbentuk kubangan," beber Yusri, 37, ayah Ahmad Romansyah.

Orangtua Ahmad Romansyah yang merupakan warga Dusun Pandoso, Desa Padang Lambe, Kecamatan Suli, Kabupaten Luwu, selama tiga bulan mereka menumpang di indekos adiknya. Di indekos dengan luas kurang lebih 3 x 4 meter itu, Yusri dan istrinya, serta dua anaknya itu, menumpang sementara.

Yusri menceritakan, saat istrinya mengandung Ahmad, itu berlangsung normal. Sama seperti kehamilan sebelumnya. Saat istrinya melahirkan, anaknya lahir secara normal dan belum mengetahui anaknya tersebut menderita Hidrosefalus .

Ahmad dilahirkan di kediaman pasangan Yusri dan Lisna dengan bantuan bidan setempat. "Pada waktu Ahmad lahir itu normal, tetapi lembek. Seiring perjalanan waktu, kepalanya kian membesar hampir kayak helm,"bebernya.

Saat dilakukan pemeriksaan di puskesmas itulah, orangtua Ahmad baru mengetahui kalau anak bungsu dari empat bersaudara tersebut  menderita Hidrosefalus.

Selama tiga bulan belakangan, kata Yusri,  anak bungsunya itu terus menjalani pengobatan. Setelah menjalani operasi bulan lalu, rencananya pada pertengahan Juni ini  kondisi anaknya akan kembali dicek  dan selanjutnya akan dioperasi kembali.

Yusri mengaku bersyukur, kendati anaknya itu tidak dapat  merespons orang di sekitarnya, tapi anak bungsunya itu bisa selamat. Menurut Yusri, tipis harapan anaknya itu dapat berbicara normal nantinya, karena otaknya sudah mengecil dipenuhi cairan. "Berdoa saja semoga panjang umur, biar tidak bisa bicara yang penting  bersyukur anakku bisa selamat,"jelas petani ini.

Sementara itu, Lisna menjelaskan, anaknya tersebut sulit tidur. Paling lama, kata dia, dalam sehari Ahmad hanya tidur nyenyak selama tiga jam saja. Terkadang, tambah dia, dia harus tidur sembari duduk memangku bayi laki-lakinya itu agar dapat tenang dan tidak menangis. "Anak saya ini suka menangis,"bebernya.


Kendati biaya pengobatan dan penanganan medis bayinya itu ditanggung jaminan sosial kesehatan, namun Lisna  mengharapkan uluran tangan para dermawan. "Berharap bantuan untuk biaya hidup selama di Makassar, termasuk untuk membeli bubur dan susu bayi, serta  popok anaknya itu,"ujarnya.

*******

Bagi Anda yang ingin membantu,  dapat menghubungi orangtua Ahmad, Yusri via ponsel : 085299684047. 
9 December 2015

Polisi Belum Meringkus Pelaku





WATAMPONE,FAJAR--Penyelidikan kasus pembunuhan Abdul Rahman , 32 tahun, warga Jalan Desa Bila, Kecamatan Amali, yang tewas mengenaskan di Kampung Bulucina, DesaTeamusu, belum mengalami perkembangan yang berarti. Para pelaku yang sudah diidentifikasi lebih dari satu orang itu, belum juga diringkus.

Kasat Reskrim Polres Bone, Ali Tahir, mengatakan, terkait penyelidikan kasus
tersebut, pihaknya juga tetap membeckup Polsek Ulaweng dalam penyelidikan kasus itu. Menurutnya, belum ada perkembangan berarti dalam penyelidikan. Walaupun, kata dia, pelakunya yang lebih dari satu orang tersebut sudah diidentifikasi."Belum ada perkembangan yang berarti terkait penyelidikan kasus itu,"jelasnya, Selasa, 3 September.

Sebelumnya, Kasat Reskrim Polres Bone ini, berdalih, petugas kesulitan meringkus mereka yang dicurigai sebagai pelakunya. Pasalnya, jelas dia, pelaku sudah bersembunyi dan lokasi persembunyian mereka  sangat sulit diakses petugas yang melakukan pengejaran.

Sementara itu, penyidik Polsek Ulaweng kian mengintensifkan pemeriksaan saksi kunci dalam kasus ini. Bahkan, menjadwalkan mengintegorasi Saksi tambahan dalam waktu dekat ini. Kapolsek Ulaweng, AKP Andi Bahsar, menjelaskan,  pemanggilan untuk diintegorasi  saksi tambahan itu, untuk memperkuat alibi dan keterangan saksi kunci sebelumnya, yaitu Syamsiar, 25 tahun.  Syamsiar sendiri merupakan wanita yang menemani korban, saat terjadinya penganiayaan yang berujung pembunuhan yang dilakukan pelaku yang berjumlah lebih dari satu orang  terhadap korban, Abdul Rahman.


Informasi yang dihimpun dari salah seorang petugas di Polsek Ulaweng, selain mengintegorasi saksi, petugas tetap melakukan pengejaran terhadap mereka yang dicurigai sebagai pelaku. Tak hanya itu, sejumlah informan pun dilibatkan dalam penyelidikan kasus ini. Langkah itu, untuk mengetahui keberadaan para pelaku. (eds)
15 September 2015

11 JCH Sulsel Korban Crane

MAKASSAR,FAJAR---Sebanyak 11 Jemaah Calon Haji (JCH) asal Sulsel menjadi korban rubuhnya alat berat (crane) di Masjidil Haram. Umumnya, para korban terkena serpihan reruntuhan material bangunan saat crane tersebut jatuh.

Ketua DPRD Maros, AS Chaidir Syam, menceritakan, sebelum peristiwa nahas jatuhnya crane di Masjidil Haram. Badai pasir melanda sekitar Masjidil Haram . Sejumlah jemaah pun tampak panik melihat kondisi cuaca tersebut. Bahkan, kata JCH Kloter 16 asal Maros ini, tak sedikit dari jemaah bertakbir.

Tak berselang lama, sekira pukul 17. 15 Waktu Arab Saudi (WAS) kilat dan guntur bergemuruh sangat keras seperti ledakan. Disusul hujan melanda. Saat guntur yang bergemuruh sangat keras itulah, runtuh pula salah satu crane di kawasan masjid. "Sekira pukul 17.15 WAS memang datang hujan deras yang disertai kilat dan badai pasir,"bebernya.
Saat kejadian, ia sedang tawaf di Lantai 2. Saat putaran tawaf yang ke-enam itulah, jelas AS Chaidir Syam musibah tersebut terjadi. Jaraknya lokasi dengan dirinya sekitar 100 meter. Di tengah kepanikan para jemaah saat itu, ia tetap menuntaskan tawafnya. "Saya tetap melanjutkan tawaf sampai tuntas 7 putaran. Jemaah sudah mulai panik dan berlarian menuju tempat sai,"jelasnya.
Dua orang jemaah kloter 16 asal Kabupaten Maros menjadi korban dalam peristiwa ini, yaitu Harun Abd Hamid dan Subandi Amad Sarbini.
Keduanya mengalami luka akibat terkena besi yang jatuh.

Sementara itu, Ketua Kloter 18 Embarkasi Hasanuddin, Muh Rasbi, membenarkan di kloternya terdapat empat warga Bulukumba yang mengalami luka-luka akibat terkena serpihan material, yaitu Erni Sampe Dosen, Rosdiana Mudu Toheng,
Abdul Jalil Conci Leta, dan Fatmawati Abdul Jalil. "Semuanya sudah membaik dan berada di pondokan, "bebernya.
Saat kejadian, Kepala Kantor Kemenag Bulukumba ini mengaku sedang menuju pondokan untuk melaporkan keadaan jemaah yang tiba di Mekkah. Saat itu memang sedang badai pasir dan itu pengalaman yang sangat tidak bisa dilupakan.
Terpisah, salah seorang TKHI kloter 5 Embarkasi Hasanuddin Makassar, yang meminta namanya tidak dikorankan, melaporkan, ada dua JCH asal sidrap yang mengalami luka-luka ringan, Saharmi dan Paharuddin. Kendati demikian, kondisinya sudah membaik dan akan dijemput untuk pulang ke pondokan atau hotel.

Salah seorang JCH asal Pare-pare,Haeriah Zakariah, melaporkan, usai salat magrib di Masjidil Haram Mekkah, polisi Arab Saudi mengamankan lokasi kejadian. Bahkan, terlihat sejumlah ambulans hilir mudik mengevakuasi para korban baik yang meninggal dunia maupun yang mengalami luka-luka. "Saat saya keluar dari Masjid Haram, sementara dievakuasi para korban. Banyak juga polisi berdatangan,"bebernya.


Dari kloter 13, dr Anwas menyampaikan, pasca insiden jatuhnya crane ada beberapa jamaah yang trauma. Namun, hal itu tidak mengganggu aktivitas mereka.
Untuk antisipasi dari pihak sektor yang diteruskan kepada petugas kloter disampaikan perkiraan cuaca. Itu sebagai pertimbangan bagi jamaah yang hendak beraktivitas di luar.
Kepala Kanwil Kemenag Sulsel, Abdul Wahid Thahir mengatakan, sejumlah JCH yang menjadi korban sudah ada yang kembali ke kloternya masing-masing. Namun, sebagian juga masih tetap dirawat."
Alhamdulillah sudah kembali bergabung dgn kloternya dan yang lainnya sementara penyembuhan,"jelasnya.

Sementara di Sidrap, pihak keluarga Saharmi Umar Passire dan Paharuddin, keduanya ikut terluka saat crane besar Masjidil Haram terjatuh, berharap keduanya baik-baik saja.
Hamzah, salah seorang kerabat Saharmi, jemaah haji Sidrap yang beralamat di Jalan Andi Mangkau, Rijang Pittu Maritenggae, Sidrap itu, mengaku telah mendapat informasi penting mengenai Saharmi.
"Infonya terakhir yang kami dapat dari Mekah, kondisi Saharmi sudah agak membaik, katanya dia saat ini masih mendapat perawatan intensif di RS Annoor, orang sana bilang RSAS," ujar Hamzah kepada Fajar, malam tadi.
Disampaikan Hamzah, Saharmi berangkat ke tanah suci bersama dengan 202 calon jemaah haji asal Sidrap lainnya.
Saharmi sendiri mengenakan nomor paspor: B0590380 dan tercatat di kelompok terbang (Kloter) Upg–002.
Lain halnya dengan keluarga Paharuddin, jemaah haji asal Sidrap lainnya yang disebut-sebut ikut terluka dalam insiden jatuhnya crane besar di Masjidil Haram itu?. Beberapa pihak keluarga Paharuddin beralamat di Jalan Andi Cammi itu mengaku belum mendapatkan informasi apa-apa dari Mekah.
"Sedikitpun kami belum ada kabar mengenai kondisi Paharuddin disana. Kami sudah mencoba mengontak nomor-nomor penting disana tapi bel bisa tembus. Harapan kami semoga luka yang dialami Paharuddin tidaklah parah," ujar Rahmah, kerabat Paharuddin. (eds-eby-sam)

Dikirim melalui BlackBerry® dari 3 – Jaringan GSM-Mu