0
On this Article
Home  ›  Feature

Suasana duka Iringi Pemakaman Iptu Muh Daud

- Dimakamkan di Kaki Gunung Bawakaraeng



 EDY ARSYAD

Suasana duka mengiringi kedatangan jenasah anggota Direktorat Intelijen dan Keamanan (Intelkam) Polda Sulsel,  mendiang Iptu Muh Daud, di kediaman kedua orang tuanya di Dusun Lembanna, Desa Gunung Perak, Kecamatan Sinjai Barat, Selasa malam,
11 Februari.





Ratusan  keluarga, kerabat, dan rekan korban di desa yang berada  di kaki Gunung Bawakaraeng tersebut,  sudah menunggu kedatangan jenazah mendiang di kediaman orang tuanya sejak siang hari setelah tersiar kabar mendiang meninggal tertembak oleh orang tak dikenal.

Susana dingin menyelimuti kaki Gunung Bawakaraeng di Dusun Lembanna, Desa Gunung Perak,  tak membuat keluarga dan kerabat serta pelayat lainnya yang sedari siang menunggu  kedatangan jenazah Iptu Muh Daud, beranjak di sekitar kediaman orang tua mendiang Muh Daud.

Mereka pun bersabar menunggu kedatang jenazah  yang akan dimakamkan di kampung halamannya itu. Demikian pula, puluhan personil kepolisian dari Polres Sinjai berjaga-jaga.

Selain itu, para  pelayat pun silih berganti berdatangan  untuk mengucapkanbela sungkawa atas kematian putra dari H Baderi itu. Di rumah orang tua korban penembakan tersebut, yang berada di depan  SD Negeri Nomor  75 Lembanna, Desa Gunung Perak, Kecamatan Sinjai Barat, Dua tenda  berwarna Biru dan Cokelat terpasang  di depan SD Lembanna.

Jenazah mendiang anggota Direktorat Intelkam Polda Sulsel tersebut tiba di kediaman kedua orang tuanya sekira pukul 20.00 wita, suasana haru pun terlihat saat jenazah diturunkan dari Ambulance  untuk disemayamkan. Sejumlah kerabat mendiang pun tak kuasa meneteskan air matanya. Tangis kedukaan pun mewarnai.

Demikian pula, saat jenazah disemayamkan di kediaman orang tuanya, tampak ayah mendiang, Haji
Badewi, 85 tahun, tak kuasa menahan kesedihan.

Setelah disemayamkan sekira 10 menit, jenazah pun diusung sejumlah pelayat  menggunakan keranda untuk disalati di Masjid Nurul Yaqien, yang berada sekira satu kilometer dari kediaman kedua orangtua mendiang anggota Polda tersebut.

Ayah mendiang Muh Daud, Badewi  pun ikut mengantar jenazah anaknya ke pemakaman terakhirnya. Walaupun  raut kedukaan menghiasi wajahnya, namun ia tampak tegar menerima kenyataan kepergiaan anaknya tersebut. Ia pun harus dibonceng menggunakan sepeda motor untuk mengantar pemakaman jenazah  anaknya tersebut.

Usai disalati, jenazah almarhum dimakamkan di pekuburan warga yang berjarak sekitar 500 meter dari Masjid Nurul Yaqien. Tampak hadir di pemakaman, KH Mansur Salim dari Wahdah Islamiyah Sulsel. Tak hanya itu, hadir pula Direktur Intelkam Polda Sulsel, Kombes Pol Gunawan,  dan Wakapolres Sinjai, Kompol Dwi Bachtiar dan sejumlah perwira di jajaran Polres Sinjai.

Mansur Salim yang mewakili pihak keluarga, saat di pemakaman, meminta agar aparat kepolisian mengungkap motif dan pelaku penembakan terhada Muh Daud yang juga merupakan jemaah Wahdah Islamiyah."Kami berharap pelaku dapat diberi dengan ganjaran yang setimpal dan pihak kepolisian dapat mengungkap motif dan pelakunya,"ungkapnya.

Direktur Intelkam Polda Sulsel, Kombes Pol Gunawan meminta peran serta masyarakat membantu untuk mengungkap motif dan pelaku penembakan bawahannya itu di Intelkam Polda Sulsel ini. "Kita berharap dukungan masyarakat untuk memberikan informasi, agar pelaku dan motif penembakan mendiang Muh Daud dapat terungkap,"jelasnya.

Dia menceritakan, Muh Daud adalah sosok yang taat dalam menjalan perintah agama. Selain itu, ia juga  disiplin dan ramah terhadap siapa saja."Salat Ashar Kemarin (Sehari sebelumnya, red)  saya ketemu dengan dia (Muh Daud, red). Saat saya ketemu itulah ia membagi-bagikan sejumlah uang kepada sejumlah staf. Bahkan ia sempat berujar, dalam waktu dekat ia akan pensiun,"kata Gunawan.

Almarhum meninggalkan seorang istri bernama Hj Wardiah (43 tahun) dan empat orang anak, yaitu Muh Rahmat (24), Nurfitriana dan Nurfitriani (22) yang merupakan saudara kembar, dan Ibnu Mas'ud (17).

Mendiang Iptu Muh Daud  sendiri merupakan alumni dari Sekolah Menengah Atas (SMA) 277 Sinjai yang saat ini berubah menjadi SMA Negeri 1 Sinjai.

Salah seorang  teman sekolah  dan seangkatan mendiang sewaktu di SMA 277, Iptu Alwi menceritakan, mendiang semasa sekolah dulu, dikenal sebagai seorang sosok yang sabar dan mandiri.
"Sosok almarhum sewaktu sekolah itu sangat  mandiri, karena yang bersangkutan dari Sinjai Barat yang bersekolah di Kota Sinjai,"ujar Kepala Seksi Pengawasan (Kasiwas) Polres Sinjai, Iptu Alwi.

Dia mengatakan, semasa hidupnya memang orangnya mudah bergaul dengan siapa saja. Almarhum, kata Iptu Alwi, mendaftar sebagai anggota bintara Polri melalui Sekolah Bintara Militer Suka Rela Polri (SEBA MILSUK POLRI) d dan berpendidikan selama 9 bulan di SPN (Sekolah Polisi Negara) Batua pada 1982.
Posting Komentar
Search
Menu
Theme
Share
Additional JS