Cerita Pekerja Yang Lolos Dari Maut

shares

Musibah tak dapat diprediksi. Bisa terjadi kapan dan di mana saja. Semua itu menjadi rahasia-Nya.

Bandara Sultan Hasanuddin, Edy Arsyad

Siang sekira pukul 10.30 wita, Senin kemarin, sejumlah korban insiden ambruknya rangka dudukkan atap Hanggar Kalibrasi di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin (Sulhas) mendapatkan penanganan medis di  Rumah Sakit (RS) TNI AU dr Dody Sarjoto.

Ada enam pekerja yang mengalami luka-luka mendapatkan penanganan medis di rumah sakit milik TNI AU tersebut. Asri (38) warga Asal Pangkep, salah seorang pekerja yang meninggal dalam insiden nahas tersebut.

Tampak wajah sedih terlihat dari raut wajah Amri, 40 tahun. Pria paruh baya ini merupakan salah seorang kerabat  Asri. Kendati demikian, ia tetap tabah menerima kenyataan atas peristiwa nahas yang menewaskan kerabatnya tersebut.

 Pria asal Kabupaten Pangkep ini masih terlihat trauma atas insiden yang menimpa kerabatnya. Sesekali ia menerima  telepon dari kerabatnya di Pangkep, terkait kabar duka yan menimpanya dan teknis pemulangan jenazah kerabatnya tersebut. "Semua itu sudah kehendak-Nya,"kata dia, saat ditemui di depan rumah sakit.


Dia menceritakan, saat peristiwa itu Asri sedang mengawasi rekan-rekannya yang lain. Tak disangka, kata dia, saat berada di bagian tengah, tiba- tiba dudukan atap ambruk dan menimpa Asri. Mendiang, kata dia, tertimpa di bagian paha dan kakinya."Saat itu, saya berada di luar dari bangunan hanggar, karena bagian saya adalah penyiapan bahan.lokasinya di bagian belakang dan jauh dari lokasi kejadian.
"bebernya.

Mengetahui kerabatnya tersebut, tertimpa material dudukan atap hanggar, ia dan sejumlah rekannya berusaha menolongnya. Namun, usahanya sia-sia. Tak lama berselang bantuan dari Basarnas tiba dan melakukan pemotongan material yang menimpa kerabatnya itu."Proses mengeluarkannya hampir setengah jam,"jelasnya.

Sementara itu, kendati mengalami luka-luka, Kasturi, 55 tahun, warga Demak, Jawa Tengah dan anaknya Alu Safei, 25 tahun, lolos dari maut. "Kami hanya mengalami luka ringan, namun masih trauma akan peristiwa ini,"kata Kasturi saat ditemui usai mendapatkan penanganan medis.

Senada diungkapkan Alu Safei. Menurutnya, kejadian naas tersebut sangat cepat. "Kami sudah berada di bawah reruntuhan, tapi syukur kami selamat,"ujar dia.

Kasturi dan anaknya selama mengerjakan proyek hanggar tersebut mengontrak rumah tak jauh dari lokasi tempatnya bekerja. "Kami dan sejumlah pekerja lainnya, mengontrak di sekitar pekuburan Sudiang,"bebernya.

Lain halnya dengan Antonius , 25 tahun, dengan terbata-bata,  pekerja asal Flores, Manggarai Timur, menceritakan kembali peristiwa nahas yang menimpa dirinya dan sejumlah rekan-rekannya yang lainnya.
Ada rasa syukur yang tak terhingga dapat lolos dari maut. Kendati, pria berusia 25 tahun ini hanya mengalami luka.


Dia menceritakan, ia beruntung dapat lolos dalam kejadian nahas itu. "Saat itu saya terjebak reruntuhan dan saya pikir sudah meninggal. Namun saya berusaha untuk dapat keluar dari reruntuhan,"katanya terbata-bata.

Dia mengaku baru tiga hari bekerja di dalam proyek tersebut dan sehari-harinya tinggal di kontrakan di sekitar pekuburan Sudiang yang tak jauh dari lokasi tempatnya bekerja.

Korban lainnya, Yakub mengaku baru bekerja pada hari nahas tersebut. Menurutnya, dia sangat bersamangat bekerja apalagi itu hari pertamanya bekerja. "Ini hari pertama saya bekerja, tetapi tertimpa musibah seperti ini,"kata dia sembari berbaring di ranjang perawatan.

Sementara itu, Kepala Kantor Basarnas Makassar,  Roki Asikin, menjelaskan, pihaknya mendapatkan informasi peristiwa nahas itu dari salah seorang personel Avsec." Kami dapat info sekitar pukul 09.45 wita terkait kejadian itu, dan kami pun memberangkatkan dua tim sebanyak 24 personil,"bebernya,

Para personil Basarnas tersebut melakukan evakuasi terhadap korban dengan alat pemotong beton dan baja. "Peralatan yang kami gunakan Rescue Ram, combi cutter, dan airbag,"rincinya.Dia menambahkan, rata-rata yang meninggal dunia karena tertimpa  rangka dan Pilar beton. "Kami  evakuasi 3 orang yang tertimpa dengan peralatan itu sekitar 30 menit,"beber Roki.(eds)

Related Posts

0 Komentar Anda:

Post a Comment