1 December 2014

Fenomena Seks "Putih Abu-abu" di Kota Beradat


Malam kian larut, Selasa malam, 21 Mei, jelang dini hari, tapi aktifitas kehidupan malam di Ibukota Kabupaten Bone, Watampone, tak pernah surut.

****
 Demikian halnya dengan praktek prostitusi terselebung di daerah ini. Mulai dari Pekerja Seks Komersial (PSK) yang memiliki tarif puluhan ribu, yang hampir setiap malam berseliweran di sekitar Taman Bunga Arung Palakka. Hingga, tarif ratusan ribu.


Fenomena prostitusi terselubung itu pun kini sudah merambah ke "Putih Abu-abu". Seakan tak percaya, namun ini adalah kenyataan.  Penulis pun melakukan penelusuran adanya praktek prostitusi terselubung "Putih Abu-abu" tersebut. Penelusuran diawali di salah satu wisma yang terletak di salah satu jalan protokol Watampone.

Sedikit basa basi dengan penjaga wisma pada malam itu, seraya mendekati dan bertanya kepada yang bersangkutan. "Boss, ada "barangnya". Kalau anak SMA ada yah,? tanya penulis pada penjaga wisma tersebut.

Ia pun menjawab pertanyaan tersebut. "Mau yang anak SMA, ada kok. Tapi, short time  Rp 500 ribu, ? demikian ungkapan salah seorang penjaga pada salah satu wisma di ibukota Kabupaten Bone kepada penulis, saat ditanyakan adanya siswa SMA yang menjual kemolekan tubuhnya.

Si penjaga wisma itu berprofesi ganda, selain sebagai penjaga wisma, lelaki kurus itu pun dapat menjadi "fasilitator" antara pria hidung belang dengan siswi tersebut. Setiap mendapatkan tamu, ia mengaku mendapatkan imbalan dari siswi tersebut sebesar Rp 50 hingga Rp 100 ribu.

Hanya saja, kata penjaga wisma tersebut, untuk urusan satu itu, sang siswinya hanya mau melayani pria hidung belang pada siang hari."Jam 1 siang, usai pulang sekolah, siswa itu bisa dihubungi,"jelasnya lagi.


*********

Ilustrasi/internet
Rabu dini hari, hujan gerimis pun mewarnainya.   Jam menunjukkan pukul  01.00 wita, di wisma yang berada di pinggir jalan protokol di Kota Watampone itu,  ada empat orang perempuan berusia belia, diperkirakan umurnya sekitar 16  hingga 18 tahun. Mereka pun  menyewa salah satu kamar.

Penasaran dengan keberadaan perempuan yang sudah dalam keadaan mabuk dan menyewa kamar itu, penulis pun bertanya kepada si penjaga wisma, apakah mereka bisa "dibooking" ?.  Penjaga wisma yang sebagai "penghubung"  itu pun mengiyakan. Bahkan, ia pun balik bertanya kepada penulis."Kenapa, mau yah. Kalau mau saya tanyakan kepada salah satu dari mereka,"kata dia.

Transaksi pun dilakukan. Penjaga wisma itu pun menawarkan  untuk sekali main Rp 300 ribu. Menurut dia, dirinya mengaku selain menjaga wisma ia bisa menjadi "penghubung" bagi tamu wisma yang ingin menuntaskan hasratnya. Hanya saja, jelas dia, sebelumnya harus melihat tamu itu, apakah dia mencurigakan atau tidak. Tak hanya itu, untuk pembayarannya haruslah dibayar terlebih dahulu ke penjaga wisma tersebut.

Keempat perempuan yang masih belia itu menyewa kamar selain hanya dijadikan kedok, juga agar untuk mengefektifkan waktu transaksi dan dapat segera memesan kamar untuk menuntaskan hasrat seks para hidung belang.

No comments:

Post a Comment