12 March 2014

Petik Filosofi Burung Bangau

Bangau, yah burung satu ini kerap berada di sawah. Saya pun ingin bercerita tentang burung yang satu ini.
Tentu, tidaklah sulit bagi saya menyaksikan keberadaan jenis burung yang memiliki paruh panjang ini. Apalagi burung ini hidup di rawa, tepi pantai, dan sawah.

Kebetulan saya pun bermukim di dekat area persawahan -Indekost di BTN Pitu Walie, tak Jauh dari objek wisata purbakala Batu Gojeng, Kabupaten Sinjai-.
Saban hari, siang hingga jelang petang saya kerap menyaksikan "gerombolan" burung bangau berada di hamparan sawah yang berada di depan indekost.
Hamparan sawah, dengan nuansa alamnya yang begitu indah. Tak hanya itu, keindahan hamparan persawahan itu pun dilengkapi dengan keberadaan sapi ternak milik warga yang berada di persawahan tersebut. Sapi itu pun dilepas begitu saja untuk mencari makan oleh pemiliknya.
Melengkapi nuansa alam itu, keberadaan burung bangau di sekitar sapi yang sedang mencari makan, menjadi pemandangan tersendiri. Bahkan, sejumlah bangau pun berada di atas sapi menambah kesan alam yang sangat mengesankan.
Sesekali beberapa ekor burung bangau itu pun terbang tak jauh dari tempat saya berdiri, di tepi pematang sawah. Burung bangau atau kondo (Bahasa Makassar, red)
Sewaktu masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), saya pernah memelihara satu ekor burung bangau pemberian salah seorang kerabat di kampung. Sayangnya, setelah memelihara tak cukup sepekan, burung bangau peliharaan itu menghilang dan terbang entah kemana.

Nah, mungkin ada yang bertanya, kenapa burung bangau itu kalau terbang selalu beriringan satu sama lainnya dan membentuk formasi mata panah atau huruf "V".
Ternyata, dari cara terbang burung bangau itu, ada makna filosofis yang dapat kita dipetik ?
Jika burung bangau itu terbang beriringan satu sama lainnya dengan formasi "V" nya, maka burung yang berada di bagian depan yang mengepakkan sayapnya, akan memberikan daya dukungan kepada burung bangau yang ada di belakangnya, karena
memudahkan burung yang ada di belakangnya untuk menembus dinding angin.
Demikian pula, ketika burung yang berada di bagian depan kelelahan, maka akan ia akan bergeser ke posisi bagian belakang. Kemudian, posisi sebelumnya di depan digantikan burung bangau yang ada di belakangnya.

Tentu, makna filosofisnya dalam sebuah tim, tentu haruslah kompak dalam menjalankan dan mencapai tujuan secara bersama-sama.
SINJAI, Kamis dini hari, 13 Maret, 2014.


Dikirim melalui BlackBerry® dari 3 – Jaringan GSM-Mu












No comments:

Post a Comment