26 February 2013

Pedoman Penulisan Pantau

PADA dasarnya, Anda bisa menulis laporan yang analisis dan kesimpulannya berbeda dengan pandangan redaksi Pantau. Tapi syarat yang tak bisa ditawar adalah laporan itu harus benar. Kebenaran bukan dalam pengertian filosofis. Tapi kebenaran fungsional.

Kebenaran bisa tercapai bila kita menjalankan prosedur pengumpulan informasi dengan baik. Verifikasi adalah esensi dari jurnalisme. Metodenya macam-macam. Standarnya juga banyak antara lain akurasi, proporsi, komprehensi, relevansi, fairness, berimbang, dan sebagainya.

Akurat dalam arti semua informasi yang disuguhkan tak kurang, tak berlebihan, dengan sumber-sumber yang jelas, nama lengkap, angka, waktu, jarak, ukuran, tempat, dan sebagainya. Kami tak bersedia menerbitkan laporan bila ada sumber anonim atau sumber dengan atribusi (perkecualian harus didiskusikan lebih dulu dengan kami).

Kontekstual dalam arti laporannya proporsional. Mungkin suatu fakta benar tapi secara kontekstual salah. Contoh: Banyak organisasi Islam militan di Indonesia. Ini tak berarti Islam di Indonesia adalah Islam yang militan dan fundamentalis. Banyak orang Cina Indonesia jarang bergaul dengan tetangganya tapi salah menyebut semua orang Cina anti-sosial.

Anda harus memperkenalkan diri sejelas-jelasnya. Kami keberatan kalau Anda menjalin pertemanan atau mendapat keuntungan di luar urusan reportase Anda. Kami keberatan kalau Anda mengutip seseorang tanpa izin —misalnya saat mengobrol harus minta izin. Dokumen-dokumen juga harus didapat secara legal (semua perkecualian harus didiskusikan lebih dulu dengan kami). Kami juga keberatan dengan partisipasi Anda kalau Anda mau menerima “amplop.” Kami butuh wartawan yang bersih. Kalau Anda perlu kami bisa menerbitkan surat tugas dari Pantau untuk Anda selama periode kerja Anda.

Kami juga minta Anda mencantumkan sumber-sumber dari mana Anda mendapatkan kutipan Anda. Kami punya pengalaman, beberapa kontributor kami mengutip dari suratkabar lain, tapi tak dicantumkan sumber-sumbernya. Ini sama dengan pencurian. Kami ingin semua keterangan diberi catatan kaki dari mana asalnya.
Bill Kovach dan Tom Rosenstiel dalam buku “The Elements of Journalism” mengingatkan kita dengan lima nasihat praktis untuk wartawan:

  • Jangan menambah atau mengarang apapun;
  • Jangan menipu atau menyesatkan pembaca; 
  •  Bersikaplah setransparan dan sejujur mungkin tentang metode dan motivasi Anda dalam melakukan reportase. 
  • Jujur dalam menjelaskan semua hal yang relevan untuk diketahui pembaca, termasuk kalau ada hubungan Anda dengan orang-orang dalam reportase Anda atau hubungan Anda dengan masalah yang dibahas;
  • Bersandarlah pada reportase Anda sendiri. Lakukan sendiri wawancara, meneliti dokumen, dan tak mewawancarai pihak-pihak ketiga (termasuk apa yang disebut “pengamat” atau “pakar”) yang tak melihat sendiri proses di mana isu yang Anda bahas berlangsung;
  • Bersikaplah rendah hati.

Pantau hendak mempromosikan jurnalisme yang bermutu. Kami memilih menerbitkan naskah yang dibuat dengan gaya bertutur, bercerita, sehingga mudah dinikmati dan dimengerti pembaca. Naskah macam ini biasanya menuntut si kontributor melakukan usaha. Artinya, Anda tak sekadar duduk di belakang meja dan menulis. Kami menghargai kontributor yang mau turun ke lapangan, melakukan reportase, lantas menuangkan hasil reportase itu dengan bahasa bertutur.

Kami memilih naskah yang dalam. Perdebatannya bernas, baik dari aspek sejarah, logika, sosial, politik, ekonomi, dan sebagainya. Si kontributor diharapkan mengerti perdebatan klasik yang ada di balik pilihan-pilihan yang ada dalam laporannya. Bila ada buku yang memang perlu disebutkan, buku itu harap dimasukkan dalam tubuh laporan.

Tapi kami tak ingin buku atau referensi yang tak relevan disebutkan dalam laporan. Ini mengganggu alur bacaan. Kami tak ingin kedalaman mengorbankan kenyamanan pembaca dalam membaca. Kami ingin laporan ditulis dengan lancar, dengan memikat, sedemikian rupa sehingga idealnya pembaca tak melepaskan bacaan itu sebelum tuntas.

Bahasa yang kami kembangkan adalah bahasa yang komunikatif, mudah dimengerti. Kami ingin tampil dengan sopan sehingga kami minta Anda tak menggunakan kata-kata yang tak perlu, yang tak senonoh. Kami juga tak menggunakan singkatan karena kebiasaan ini cenderung merusak bahasa Indonesia.

Kami menghargai sejarah, termasuk sejarah individu, sehingga penulisan referensi kedua seyogyanya dibuat dengan pertimbangan ini. Setiap sumber sebaiknya ditanya dia ingin disebut dengan nama apa. Misalnya, Abdul Haris Nasution sebaiknya ditulis Nasution ketimbang Abdul, Todung Mulya Lubis dengan Lubis, Aberson Marle Sihaloho dengan Sihaloho, Yap Thiam Hien dengan Yap, Aristides Katoppo dengan Katoppo namun Amien Rais ditulis Amien, atau Sigit Harjojudanto dengan Sigit.

Kami memilih menerbitkan masalah yang berkaitan dengan macam-macam isu -bukan hanya media dan jurnalisme. Intinya, kami menerbitkan laporan tentang politik, ekonomi, kebudayaan, lingkungan hidup, kesehatan, nasionalisme, demokrasi, pemilihan umum, pencarian identitas, pasar bebas, globalisasi, neoliberalisme, bioteknologi, musik, teater, film, serial televisi, buku dan sebagainya. Praktis kami membuka peluang untuk semua isu.

Ini konvensi saja. Mohon setiap penulisan nama media, nama kapal, dan judul buku, dicetak miring --sama halnya dengan penulisan dari bahasa asing. Kami tak menentukan seberapa panjang suatu laporan bisa dibuat. Teoritis kami tak punya batasan seberapa panjang si kontributor bisa menulis sejauh ia tak berbual-bual. Dua rekor sejauh ini adalah "Kejarlah Daku Kau Kusekolahkan" oleh Alfian Hamzah (soal Aceh) dan "Konflik Tak Kunjung Padam" oleh Coen Husain Pontoh (soal majalah Tempo) masing-masing sepanjang 23 ribu dan 15 ribu kata.

Untuk keperluan praktis, ada baiknya Anda menanyakan lebih dulu berapa kata yang bisa Anda tulis untuk topik tertentu dengan fokus, angle, dan outline begini atau begitu. Kami menganjurkan kontributor yang belum biasa menulis untuk mulai dengan laporan pendek. Satu halaman Pantau panjangnya sekitar 800 kata.

(Sumber:  http://rahmatpetuguran.blogspot.com/2012/09/pedoman-penulisan-pantau.html)

No comments:

Post a Comment