0
On this Article
Home  ›  Tidak Ada Kategori

Dis-orientasi Gerakan Mahasiswa Makassar

Mahasiswa memang punya banyak ide. Tapi hanya sedikit yang benar-benar berusaha mewujudkannya. (anonym)

Siang Itu, sang matahari nan angkuhnya memancarkan panas yang begitu menyegat kulit. Buliran keringat bercucuran, sebagai respon betapa panasnya siang itu, apalagi panas yang ditimbulkan Ban bekas yang terbakar, bercampur aduk. Namun, dengan semangat berkoar-koar puluhan mahasiswa dengan gegap gempita berorasi di depan kampus mereka, UIN Alauddin Makassar. 
 
Sang Koordinator lapangan, dengan gagah beraninya berorasi dengan Micro phone dengan suara yang menggelegar, memekikkan telinga para pengguna jalan Alauddin. Tangan Kirinya memegang Micro phone, di selempangkannya tali pengeras suara itu di lengannya, sementara tangan kanan, dengan gaya khas Soekarno-nya, jari telunjuk di arahkannya ke langit nan biru, dengan latar belakang asap hitam mengepul dari ban bekas mewarnai aksi.

Sorakan para penggembira aksi dengan sautan dan teriakan, “Hidup Mahasiswa !!!, Hidup Rakyat…!!!, Sesekali para demonstran mengumpat dengan sumpah serapah para pelaku elit negeri ini, apalagi kalau bukan ulah para koruptor, dengan seenaknya saja menggunakan kekuasaan tuk kepentingan dirinya sendiri.
Mata ini tertuju pada sang orator, memperhatikan retorikanya, seolah-olah -lah si singa podium, Bung karno. Dengan argumentasi yang berapi-api, membakar semangat kawan-kawannya. Terlebih lagi, pabila kamera jurnalis TV tertuju padanya, maka menjadi-jadilah gerakan Sang orator tersebut.

Demontrasi, bukanlah aktivitas langkah di kampusku, tetapi sudah menjadi rutinitas harian. Demontrasi seolah menjadi mata kuliah tambahan bagi sejumlah aktivis di kampusku. “Setiap hari hanyalah demo terus” Ungkapan tetanggaku, yang kerap diskusi denganku, di suatu pernah di pos ronda .Kondisi keterpurukan negeri ini, tidak dapat diselesaikan hanya dengan demo saja, dik”, ujarnya padaku. 

Tetapi, lanjut Ia, sembari memberikan jawaban, “Toh, kaliankan kaum terpelajar, sudah semestinya mencarikan solusi mengatasi problem tersebut, kalau hanya tahunya demo melulu, dan memacetkan jalan. Tentu yang dirugikan masyarakat itu sendiri, yang nantinya menambah persoalan lagi. Mungkin inilah bentuk eforia reformasi yang kebablasan.”Ungkapnya, berusaha menyakinkanku.
 
Kampus Hijau, konon ditempat inilah Calon ulama yang Intelektual dan intelektual yang ulama di didik, namun masih adakah secercah harapan buat mereka, ataukah harapan itu hilang, bersama dengan tuntutan reformasi yang kehilangan arah. “Dis-orientasi gerakan”Gumam pikiranku, yang berusaha menyakini hipotesis sejumlah kalangan melihat gerakan mahasiswa yang kehilangan arah perjuangannya.

Kampus di sepanjang jalan Sultan Alauddin, macet total, disesaki sejumlah kendaraan yang terjebak kemacetan akibat ulah para demonstran. Pun, Klakson kendaraan bermotor bersaut-sautan, baik roda dua maupun roda empat. Para pengguna jalan merasa geram dengan ulah intelektual kita. Tidak itu saja, kepulan asap ban bekas sebagai pelengkap aksi, “Kurang Afdhol rasanya, tiap aksi tanpa bakar ban bekas.”Ujar kawanku, yang terkenal sebagai orator ulung di Kampusku.

Sirine mobil ambulance meraung-raung, terjebak kemacetan, berusaha menembus blockade pengunjuk rasa yang memalang jalan, melintangkan Mobil pengankut BBM ditengahnya. Di ambulance tersebut, seorang pasien sedang dalam kondisi kritis, keluarga pasien di ambulance itu, hanya menangis. Pasien butuh pertolongan sesegera mungkin, tuk mengardapatkan perawatan medis.

Kejadian itu, menghentakku dan berpikir,apa yang mereka perjuangkan. Bila, mereka memperjuangkan rakyat, toh kenapa gerakan demonstrasi mahasiswa kerap mendapatkan sikap antipati masyarakat, bahkan cemohan bahwa aksi mahasiswa ditunggangi sejumlah oknum yang meraup keuntungan dari aksi itu.

Dulunya, saya seorang demontrans. Tak jarang wajahku kerap tampil dilayar tv sebagai orator. Tapi itu dulu, kini melihat arah gerakan rekan-rekanku, yang kehilangan orientasi. Pun, saya perlahan meninggalkannya. Dulu, ketika kami aksi, penutupan jalan menjadi warna tersendiri, semakin macet jalan, semakin aksi kami menjadi perhatian media. hal itu, dilakukan agar media melirik aksi kita untuk diliput.

Tak jarang, kami menutup full jalan. Bahkan, ban bekas dibakar dan asapnya pun mengepul, mengotori awan nan biru. Bahkan, pernah suatu ketika salah seorang demontrans tangannya terbakar. Disebabkan, karena saat ingin menyiram ban bekas dengan bensin, tiba-tiba saja api menyambar tangannya. Tak pelak, Ia pun harus menjalani perawatan medis.

Pertanyaanya, kemana arah perjuangan mahasiswa pasca reformasi, bahkan gerakan mahasiswa, menurutku kehilangan arah dan terkesan menuai antipati. Selain itu, banyaknya bentrok antar mahasiswa menjadi sekelumit permasalahan yang mengiringi dunia kemahasiswaan di kekinian ?

Ada apa dengan mahasiswa, bukankah idealnya mahasiswa sebagai corong perubahan. Ia menjadi agen perubahan menuju tatanan yang lebih baik. Seorang yang menjadi penerjemah persoalan orang disekitarnya, dan menjawabnya dengan pikiran, bahkan menjadi pioner harapan bangsa, yang berpikir progresif sebagai cara pikir untuk pencapaian penyelesaian permasalahan di negeri ini. Bukan menjadi bagian dari permasalahan.

Tingginya tingkat intelektual, tetapi tidak dibarengi dengan moralitas. Sedemikian parahkah kondisi kemahasiswan, menjual idealisme dan identitas dirinya, untuk segepok uang demi kebutuhan memenuhi hasrat pribadi, bahkan demi memiliki perangkat komunikasi (HP) yang memiliki fitur-fitur yang canggih. Sehingga gerakan mahasiswa digadaikan dan menjualnya dengan nama rakyat. Rakyat yang mana yang ia perjuangkan ?.

Contoh diatas, bukan menjadi rahasia umum lagi, tapi menjadi aktivitas aktivis seolah idealis tapi iblis. Sejumlah oknum yang memanfaatkan gerakannya yang tanpa konsep dan solusi yang jelas. Lihat saja penampilan sejumlah aktivis, menenteng Hand Phone yang memiliki harga yang tinggi, dimanakah ia memperoleh untuk membelinya. Kalau bukan dengan menjual harga diri mahasiswa- (Maaf kalau kecurigaanku terlalu besar, semoga ini tidak terjadi)-, bahkan junior-juniornya pun menjadi penggembira dalam setiap aksinya.

Kepandaian sang orator merangkai kata,dan mempengaharui para demonstrans saat aksi, tidak sinergis dengan prilaku keseharian dari sang orator, maklum mereka bagian dari NATO (No Action Talking Only).Manusia dengan standar ganda, sisi lain Ia menolak korupsi,namun di kesehariannya diliputi dengan nuansa korupsi. Contoh kecilnya, banyak -tapi tidak semuanya- mahasiswa yang berlabel aktivist, yang juga menjadi pengurus di lembaga intra di kampusnya, dalam perencanaan dan pengelolaan dana anggaran lembaganya, diselewengkan. 

Hal ini menjadikannya calon koruptor kelas teri, bahkan nantinya menjadi birokrat menambah daftar-daftar para koruptor di negeri ini. Duh, negeri ini menjadi lahan bagi koruptor yang menyengsarakan rakyatnya. Intelektual menjadi jalan, tetapi moralitas sebagai pedoman. Semoga menjadi refleksi buat penerus bangsa ini…
Posting Komentar
Search
Menu
Theme
Share
Additional JS