8 August 2012

Radio Suara Daya Indah (SDI) Eksis Dengan Kreatifitas dan Kerja Keras

Eksisnya sebuah stasiun radio, tidak terlepas dari kreatifitas dan kerja keras  dalam mengelolanya. Tak hanya itu, pengelola pun harus memahami  keinginan para pendengar, serta mengikuti perkembangan musik, baik lagu Indonesia, juga konten lokal , yakni lagu bernuansa daerah, terutama lagu daerah Bugis dan Makassar. Bagaiamana kiat  Radio Suara Daya Indah (SDI) Bone, tetap eksis di usianya yang ke 25 tahun. 


EDY ARSYAD, WATAMPONE


Radio Suara Daya Indah (SDI) Bone mengudara pertama kalinya pada 17 Juli 1987, hingga kini masih eksis di tengah-tengah ruang pendengarnya di Bumi Arung Palakka. Awalnya, memilih jalur gelombang 1368 AM. Mengikuti perkembangan, pada 2003 radio ini pun beralih dari gelombang 1368 AM ke gelombang  104,4 FM.  

    Radio yang memiliki tagline medianya Bone ini, studio radionya pertama kali berada di Jalan MH Thamrin, Watampone. Akan tetapi, setahun lalu, radio ini  menempati kantor sekaligus studionya yang baru di Jalan Andi Massakirang, Kelurahan Tibojong, Kecamatan Tanete Riattang Timur. 

    Walaupun menggarap segmen di segala usia, radio ini tidak mengesampingkan nilai-nilai budaya setempat, yaitu dengan menghadirkan konten lokal dalam program-programnya. Bahkan, konten lokal itu menjadi program unggulan. Selain itu, SDI juga mengikuti perkembangan musik maupun lagu Indonesia, tetapi tetap menghadirkan lagu bernuansa daerah, terutama lagu daerah Bugis dan Makassar.

    Program colak-colek misalnya. Para pendengar dapat berpartisipasi dalam program ini, selain bisa memesan lagu daerah Bugis-Makassar kesukaannya, pendengar juga dapat saling bertukar sapa, yang diselingi candaan."Dua penyiar berduet dengan menggunakan bahasa Bugis dalam program colak-colek ini,"kata Veronika Hamid, General Manager (GM) radio ini, Jumat, 3 Agustus. 

   Siaran reguler radio ini,  on air pada pukul 06.00 wita hingga pukul 24. 00 wita. Khusus di ramadan ini, radio SDI  on air  siaran sahur, yakni pada pukul 2 dini hari, hingga Pukul 05.30 wita. Kemudian dilanjutkan dengan siaran reguler seperti biasanya. Dan mengahdirkan Konsep musik lagu pop indonesia, lagu dangdut, lagu daerah Bugis-Makassar, dan sesekali diselipkan lagu barat atau manca negara.

      Dalam ramadan ini, ada program dialog ramadan, para pendengar dapat berinteraktif maupun bertanya kepada ustadz terkait permasalahan agama. Selain itu, ada program salam sahur, dimana dalam program ini, radio SDI bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bone menghadirkan kuis kepada pendengar radio ini.


  Diakui Veronika, dalam perkembangan teknologi komunikasi saat ini, dibutuhkan kreatifitas pengelola radio, agar radio itu tetap eksis. Pasalnya, kata dia, banyaknya penilaian orang bahwa yang bekerja di radio itu bawaannya atau kerjanya itu santai. Kenyataannya, ujar Veronika, tak semudah orang bayangkan, karena dibutuhkan kerja keras dan kreatifitas dalam mengelolanya. 


  Pengelola radio sendiri, harus peka terhadap keinginan pendengarnya. Radio  SDI  misalnya, yang dulunya memakai gelombang AM, karena tuntutan pendengar, maka radio swasta milik Freddy Abdul Halik Hamid ini harus beralih dari gelombang AM ke gelombang FM. Sehingga, radio ini pun memiliki tagline,"Medianya Bone". Maksud tagline itu, apa yang menjadi kesukaan orang Bone ada di radio ini."Kita harus dinamis dan peka terhadap perubahan dan tanggap dengan keinginan masyarakat itu sendiri,"jelasnya.



    Veronika, General Manager Radio SDI ini mengatakan, radio tak sekadar menjadi media hiburan,  tetapi diharapkan dapat memberikan pencerahan bagi pendengarnya. Bahkan, diyakininya, radio akan tetap eksis. Diakuinya, walaupun  teknologi media komunikasi semakin canggih, akan tetapi siaran radio masih memiliki tempat bagi masyarakat. Apalagi, kata dia, dengan banyaknya ponsel yang dilengkapi dengan pesawat radio. 


  Dia mengatakan, 25 tahun merupakan sebuah perjalanan panjang bagi radio SDI ini, yang juga stasiun radio anggota dari Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia (PRSSNI) ini. Menurutnya, eksisnya sebuah radio itu, termasuk SDI , tidak terlepas dari adanya pembinaan sumber daya manusia (SDM) pada radio tersebut. Dan pembinaan SDM itu dilakukan terus menerus untuk bisa menjawab persaingan maupun perkembangan media, khususnya media radio.Selain itu, tidak terlepas dari pengiklan, yang menjadikan radio SDI sebagai partner dalam mempromosikan usaha mereka.

       Terkait pemberitaan, pihak SDI menyiarkan berita bekerjasama dengan KBR68H di Jakarta untuk produksi berita yang disebarluaskan melalui jaringannya. Menurutnya, radio SDI diharapkan juga dapat memberikan tak sekadar hiburan lagu semata, akan tetapi bisa memberikan informasi dan pencerahan bagi pendengarnya terutama masyarakat di Kabupaten Bone. Menurutnya, jangkauan pemancar radio SDI itu selain di Bone, mencakup hingga di Kabupaten lain yang berbatasan dengan Bone, seperti Kabupaten Sinjai, Sengkang, dan Soppeng. Bahkan, ada pula pendengar yang berasal dari Kolaka, Sultra. 


  Salah seorang pendengar setia radio SDI, Farhan misalnya. Warga Jalan Lapatau Dalam, Watampone ini, mengaku, senang dengan program yang dihadirkan radio yang masih eksis hingga kini di Bumi Arung Palakka ini. Apalagi program konten lokalnya, yang menghadirkan lagu-lagu daerah baik lagu daerah Bugis maupun lagu daerah Makassar. "Saya senang mendengarkan lagu daerah di radio  ini, dan radio ini masih tetap eksis hingga sekarang di daerah ini,"ujarnya. 


No comments:

Post a Comment