Dokar ditengah Persaingan Kendaraan Modern

shares


         Menikmati suasana Butta Toa, dengan keindahan alamnya. Tak hanya dapat dinikmati dengan berkendaraan pribadi.  Kita pun, boleh menikmatinya dengan mencoba alat transportasi tradisional, dokar.

 EDY ARSYAD, Bantaeng.

     Dokar  merupakan alat transportasi tradisional. Hingga kini, kendaraan ini masih kerap dipergunakan sebagian masyarakat Butta Toa.  Keberadaan dokar sendiri, masih dapat dihitung jari. Namun ia harus bersaing dengan sejumlah alat transportasi yang terbilang modern. Untuk di Kota Bantaeng sendiri, kita dapat menemukan keberadaan dokar di  sekitar  Pasar Sentral  Bantaeng.

         Dokar sendiri  bisa  menjadi pilihan alternatif sebagai kendaraan yang bebas polusi. Tak hanya itu,  dengan menumpang dokar pun,  kita dapat melihat dan merasakan  suasana Kota Bantaeng, dari atas kereta yang di pandu oleh kusir. Walaupun kendaraan bermotor, baik roda dua dan empat yang tergolong  modern dan praktis. Tetapi pengguna  jasa dokar di Bantaeng, khususnya para pedagang pasar maupun pengunjung pasar, masih cukup tinggi.

     Kereta yang mempunyai dua roda dan ditarik seekor kuda ini,  masih menjadi pilihan bagi sejumlah warga. Seperti yang terlihat saat penulis menyambangi  sekitar Pasar Sentral Bantaeng, yang terletak di Jalan Monginsidi.  Salah seorang kusir dokar, Iwan (25),  menjelaskan, bahwa ia menjadikan kompleks  pasar sebagai tempat untuk mencari muatan dokarnya, “Iya, disinilah kami mencari sesuap nasi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,”ungkapnya.  

        Warga Kampung Allu, Kelurahan Karatuang, Kecamatan Bantaeng ini, mengaku menggeluti pekerjaan ini, karena tidak memiliki keterampilan lain, sehingga ia meneruskan pekerjaan orang tuanya,”Keterampilan membawa dokar, saya peroleh dari orang tua, yang dulunya juga bekerja seperti  saya saat ini,”ujarnya, saat menunggu penumpang dokar. Untuk  tarif  sekali jalan, kata iwan,  dipatok harga  sekitar Rp 2 Ribu saja. Dan kapasitas penumpang dokarnya hanya mampu menampung sekitar 5 orang saja yang tentunya, ditambah dengan barang bawahannya.

      Dia menambahkan, penghasilannya sebagai Kusir dalam sehari, sering mendapatkan sekitar Rp 20 Ribuan. Itu, jika para pengunjung pasar sedang ramai. Sebaliknya, jika pengunjung Pasar Sentral Bantaeng sepi. Ia biasanya tak mendapatkan penghasilan sama sekali. Dan untuk menyiasatinya,  mencari rerumputan untuk pakan kuda,”katanya.

        Ia dan rekan-rekannya, sesama kusir, beroperasi saat pagi hari dan siang hari saja. Bila menjelang sore, sulit untuk mendapatkan penumpang.  Karena, rata-rata para penumpang dokar kebanyakan ibu-ibu yang ingin berbelanja dan usai berbelanja di Pasar. Selain itu, para pedagang di pasar yang ingin barang dagangannya diantarkan ke para pemesannya menjadi salah satu tambahan penghasilan buat mereka.

      Para  kusir ini pun tak menjadikan sejumlah angkutan umum serta ojek yang beoperasi di sekitar pasar menjadi saingan. Menurutnya, semua orang mempunyai rezekinya masing-masing. Tinggal, lanjutnya, kita hanya berusaha dengan bekerja. Sementara itu, salah seorang penumpang dokar, Sumiati (34) , menjelaskan, ia sering menggunakan jasa angkutan dokar, karena selain murah, ia juga bisa menampung sejumlah barang bawaanya, saat ia berbelanja di pasar. Tak hanya itu,katanya, penumpang pun diantar sampai di depan rumah masing-masing.

Related Posts

0 Komentar Anda:

Post a Comment