Dari Maulid Di Kota Makassar

shares

     Langit di Malam Itu mendung. Tapi tidak menyurutkan antusias masyarakat mengelar ritual Maulid. Sholat Mahgrib pun usai. Jamaha Masjid Nurul Maarif,Kelurahan Paropo, Kecamatan Panakkukang, duduk bersimpuh dan melingkar di atas panggung. Mereka mengenakan baju gamis lengkap dengan pecinya.  


    Gurutta Ustd H. Jafri Baco, pun memimpin bacaan Zikir Berzanji, Suara mereka kadang lirih, pun kadang melengking. Dan pada bagian tertentu, disahuti oleh jemaah lainnya secara bersamaan. Tergantung makna dan ekspresi bacaan. 

    Seorang tua renta yang duduk di bawah panggung, Mulutnya pun ikuti lantunan Zikir Barzanji. Ia sudah hafal diluar kepala. Hampir sebagian besar warga disana, sebagai pelafal barzanji, bahkan banyak masyarakat Kota Makassar, belajar di sana. karena di Kampung inilah tempat belajar, bagi mereka yang ingin menguasainya.

    Tua dan muda, berbaur menjadi satu. Lantunkan pujian kepada baginda Muhammad. Bait-demi bait terlewati, yang menceritakan riwayat Muhammad, Semenjak ia lahir sampai menjadi Rasul. Tak ada sekat generasi di atas panggung yang ukurannya 5 X 6 itu. Mereka berbaur di atas panggung. Telur-telur berderet rapi di depan panggung yang di tancapkan di atas bakul yang di isi kanre maudu atau panganan Maulid. Tentu, telurnya sudah diberi pewarna dengan hiasan replika bunga yang terbuat dari kertas. 

     Adzan Isya memanggil, mereka pun berhenti lantunkan zikir. Acara pun segera berlangsung, ditandai persiapan ibu Majelis Taklim dengan pakaian muslimahnya, menyambut para tetamu. Alunan syair pujian kepada Sang pencipta dan sejarah hidup nabi Muhammad terus mengalun membahana di malam itu, Kamis,17 Februari, di Jalan Paropo 2.

     Pengunjung pun membludak. Untuk tahun ini semakin meningkat, bahkan ratusan kursi yang disiapkan oleh pelaksana tidak mencukupi. terpaksa pengunjung yang telat, harus rela berdiri. Maudu Lompoa Ri Paropo merupakan agenda tahunan serta warisan sejak kerajaan Gowa dahulu.

     Menurut H. Jafri Baco, Maudu Lompoa Ri Paropo merupakan Maulid pertama yang diselenggarakan di kerajaan Gowa saat itu, di mana Paropo menjadi bahagian dari kerajaan Gowa. 

   "Di Kampung Paropo lah maulid pertama diadakan di Kerajaan Gowa. Saat itu Paropo merupakan serambi Mekkah nya di kerajaan Gowa bagian Utara. Untuk itu, sepantasnya kita melestarikan budaya peninggalan ini,"Tuturnya saat menyampaikan sambutan.

   Namun, ia menyayangkan kurangnya perhatian Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Makassar, yang tidak menganggarkan alokasi dana khusus bagi kegiatan tahunan ini.
   Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Makassar, Rusmayani Madjid, menampik hal itu, "kegiatan ini merupakan kerja sama antar pengurus masjid, organisasi pemuda di Paropo, dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Makassar" katanya saat membawakan sambutan.

     Usai kata sambutan dari Kepala Dinas kebudayaan dan Pariwisata Kota Makassar, sejumlah lelaki setengah baya, menaiki panggung. Mereka mengenakan baju adat Bugis-Makassar. Digenggamnya obor yang terbakar, diiringi padoangan (Lagu yang berisi doa) yang mendayu-dayu. Tabuhan rebana, gesekan biola, pukulan gendang serta Gong menjadi musik pengiring atraksi malam itu, bersatu padu membentuk irama mistik.



Sejumlah Pemain Pepe peka Ri Makkah sedang beraksi.
   Mereka menghentak perhatian pengunjung, tiba-tiba mereka membakar sekujur tubuh serta sarung yang ia kenakan. Namun mereka tak terbakar, apalagi merasakan panas. Pertunjukan yang syarat nilai mistik. Bahkan, salah seorang dari mereka di arak keliling panggung sambil dibakar. selain itu mereka mengarak salah seorang tamu ke atas panggung. 


   Itulah beberapa atraksi yang dimainkan Sanggar Remaja Paropo, di malam Maudu Lompoa Ri Paropo. Sementara itu, ada hal yang berbeda pada perayaan maulid di Jam'iyah Khalwatiyah Syekh Yusuf Al Makassary. Tak seperti tahun-tahun sebelumnya. Untuk tahun ini, mereka tidak menghadirkan telur hias.

    Ratusan Jam'iyah Khalwatiyah memadati sekretariat Jam'iyah Khalwatiyah Syekh Yusuf Al Makassary, yang beralamat di Jl Baji Bicara No 7, hingga diluar pekarangan. Para Jam'iyah berasal dari sejumlah Kabupaten di Sulsel, diantaranya Kabupaten Gowa, Takalar dan Maros. 

     Pria dan wanita, tua dan muda bersama-sama berzikir kepada sang pencipta serta shalawat kepada Nabi Muhmmad SAW yang di pimpin Imam Masjid Imam Masjid Arab Bontoala, Habib Alwi Bafaqih. terus mengalun hingga pukul 20.00 Wita. Nuansa khas timur tengah sangat terasa. Pasalnya sejumlah Jam'iyah mengenakan pakaian gamis, yang merupakan pakaian keseharian bangsa Arab. Tak ada telur hias dan kanre maudu di malam itu, Sabtu,19 Februari. Mereka semua larut dalam zikir.  

     Menurut KH Syekh Sayyid A Rahim Assegaf Puang Makka, mereka sengaja tidak menghadirkan telur hias, yang lazimnya hadir di setiap perayaan maulid. Tetapi tahun ini, ia menggantinya dengan berbagai kebutuhan pokok. kemudian disumbangkan kepada yang berhak menerimanya.

     "Kami lebih berharap maulid kali ini bisa saling berbagi. Harga telur itu, di konversi menjadi bentuk beras dan uang, agar tepat sasarannya bagi yang memerlukannya. Setidaknya momentum maulid ini tak hanya sebagai acara ceremonial semata, tetapi intinya merupakan hari kasih sayang sesama manusia. Sebab Islam hadir sebagai rahmatan lil alamin atau rahmat untuk alam semesta"kata Ketua Dewan Mursyid Jam'iyah Khalwatiyah Syekh Yusuf Al Makassary ini.

Related Posts

0 Komentar Anda:

Post a Comment